REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ambisi Aljazair menambal krisis penjaga gawang lewat nama besar akhirnya berujung kekecewaan di Piala Afrika. Harapan yang disematkan pada Luca Zidane, putra legenda sepak bola dunia Zinedine Zidane, runtuh pada momen krusial, tepat ketika Aljazair membutuhkan sosok terakhir yang paling bisa diandalkan.
Didatangkan dari kompetisi divisi dua Spanyol, Luca Zidane sejatinya merupakan pilihan darurat di tengah keterbatasan stok kiper berkualitas. Namun, perjudian itu berakhir pahit saat Aljazair disingkirkan Nigeria dengan skor 0-2 pada laga perempat final di Marrakech, Sabtu waktu setempat.
Zidane tampil jauh dari kata meyakinkan. Gol pembuka Nigeria di awal babak kedua lahir dari situasi yang seharusnya bisa diantisipasi. Alih-alih melakukan penyelamatan, Zidane justru melakukan lompatan yang janggal saat berusaha menghentikan sundulan Victor Osimhen di tiang jauh. Kesalahan berikutnya datang 10 menit kemudian, ketika distribusi bolanya yang buruk direbut lawan dan berujung gol kedua Nigeria.
Sorotan terhadap Zidane sejatinya sudah mengiringinya sejak awal turnamen. Undangannya membela Aljazair, negara asal orang tua ayahnya, menjadi perhatian besar. Bukan hanya karena darah Zidane yang mengalir, tetapi juga karena ekspektasi publik yang otomatis meninggi.
Meski sempat mencicipi dua penampilan bersama tim utama Real Madrid saat dilatih ayahnya, Luca Zidane gagal menembus skuad inti Los Blancos. Enam dari tujuh musim terakhir ia habiskan di kasta kedua sepak bola Spanyol, sebuah fakta yang membuat statusnya terus dipertanyakan di level internasional.
Selama lima tahun terakhir, posisi penjaga gawang utama Aljazair sejatinya dipegang Anthony Mandrea yang berkiprah di Ligue 1 bersama Angers. Namun, setelah klub terbarunya, Caen, terdegradasi ke divisi ketiga Prancis musim lalu, pelatih Aljazair Vladimir Petkovic menegaskan tak akan memanggil pemain dari level kompetisi serendah itu.
Situasi inilah yang membuka jalan bagi Zidane, yang pada usia 27 tahun mengubah status kewarganegaraan internasionalnya pada September lalu. Ia disiapkan sebagai pelapis Alexis Guendouz, yang belakangan naik menjadi pilihan utama. Namun cedera Guendouz jelang turnamen memaksa Zidane tampil sebagai starter.
Secara statistik, performa Zidane sempat memberi harapan. Ia tampil dalam dua dari tiga laga fase grup tanpa kebobolan dan kembali mencatat clean sheet saat Aljazair menyingkirkan Republik Demokratik Kongo di babak 16 besar, ditopang pertahanan yang solid.
Namun, ketangguhan itu runtuh saat menghadapi Nigeria yang agresif dan penuh tekanan. Zidane beberapa kali tampak ragu dalam membaca bola mati, bahkan sempat beruntung ketika bola hasil kesalahannya di babak pertama berhasil disapu dari garis gawang. Pada babak kedua, kebingungan itu kian terlihat ketika Nigeria sepenuhnya mengendalikan permainan.
Dengan kedua orang tuanya hadir langsung di stadion Maroko, Zidane tentu berharap turnamen ini menjadi pijakan menuju Piala Dunia. Aljazair sendiri tergabung di Grup J bersama Argentina, Yordania, dan Austria pada ajang yang akan digelar di Amerika Utara pada akhir tahun ini.
Namun penampilan di Piala Afrika membuat masa depan Zidane bersama Les Fennecs berada di persimpangan. Vladimir Petkovic kini dihadapkan pada keputusan penting, bertahan dengan nama besar yang belum teruji, atau kembali membuka pencarian kiper lain demi menjaga ambisi Aljazair di panggung dunia.
sumber : Reuters

6 hours ago
6














































