Kisah Kesaksian Nabi Isa, Sedekah Bisa Mencegah Musibah

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sedekah bukan hanya membuka pintu rezeki, tetapi juga mampu menolak musibah yang telah ditetapkan. Dalam sebuah kisah penuh hikmah, Nabi Isa Alahissalam memberikan kesaksian nyata bahwa amal sedekah yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi sebab datangnya ampunan Allah sekaligus perlindungan dari bencana. Kisah ini menunjukkan bagaimana kebaikan sekecil apapun, jika disertai keikhlasan, mampu mengubah takdir keburukan menjadi keselamatan.

Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menerangkan kisah Nabi Isa Alaihissalam yang menyaksikan sedekah bisa mencegah datangnya musibah.

Abdullah bin Hiban al-Bukhari menceritakan kepada kami, Abu Ja‘far al-Munada al-Baghdadi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Asy‘ats al-Hurrani, dari Abul Faraj al-Azdari bahwa Nabi Isa Alaihissalam pernah melewati sebuah desa.

Di desa tersebut terdapat seorang tukang penatu (laundry). Beberapa penduduk desa mengeluh kepada Nabi Isa dan berkata, “Wahai Nabi Isa, tukang penatu itu sering merobek pakaian kami, kemudian ditahan olehnya. Maka doakanlah kepada Allah agar ia tidak mampu membawa bungkusan pakaian itu ke rumahnya.”

Mendengar itu, Nabi Isa Alaihissalam berdoa, "Ya Allah, semoga ia tidak dapat membawa bungkusan pakaian itu ke rumahnya.”

Selanjutnya tukang penatu itu pergi mengambil pakaian para pelanggannya. Ia juga membawa tiga potong roti.

Tiba-tiba datanglah seorang ahli ibadah yang biasa beribadah di gunung. Ahli ibadah itu memberi salam dan berkata kepada tukang penatu itu, “Apakah engkau memiliki roti yang bisa engkau berikan kepadaku, atau sekadar memperlihatkannya agar aku bisa mencium baunya? Sudah lama aku tidak makan roti.”

Tukang penatu itu pun memberikan sepotong roti kepadanya. Ahli ibadah tersebut berkata dan mendoakan, “Wahai tukang penatu, semoga Allah mengampuni dosamu dan membersihkan hatimu.”

Kemudian tukang penatu itu memberikan sepotong roti lagi. Ahli ibadah itu berkata dan berdoa lagi, “Wahai tukang penatu, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.”

Tukang penatu memberikan sepotong roti yang ketiga. Ahli ibadah itu pun berkata dan berdoa lagi, “Wahai tukang penatu, semoga Allah membangunkan untukmu sebuah istana di dalam surga.”

Pada sore hari, tukang penatu itu pulang dengan selamat. Penduduk desa bertanya-tanya apakah doa Nabi Isa tidak dikabulkan.

Penduduk desa berkata kepada Nabi Isa, “Wahai Isa, tukang penatu itu kembali dengan selamat.”

Nabi Isa Alaihissalam bersabda, "Panggillah tukang penatu itu ke sini.”

Setelah tukang penatu datang, Nabi Isa bertanya, “Wahai tukang penatu, apa yang kamu lakukan hari ini?”

Tukang penatu itu menjawab, “Saya didatangi oleh seorang ahli ibadah dari gunung yang meminta makanan. Maka saya memberinya tiga potong roti. Setiap kali saya memberinya sepotong roti, ia mendoakan kebaikan untuk saya.”

Nabi Isa Alaihissalam bersabda, "Berikan kepadaku bungkusan yang kamu bawa. Aku ingin melihatnya.”

Tukang penatu itu menyerahkannya. Nabi Isa pun membukanya, dan ternyata di dalamnya terdapat seekor ular hitam yang mulutnya terikat dengan tali kekang dari besi.

Nabi Isa bersabda, "Wahai ular hitam.”

Ular itu menjawab, “Ada apa, wahai Nabiyullah?”

Nabi Isa bersabda, "Bukankah engkau diutus untuk mencelakakan orang ini?”

Ular itu menjawab, "Benar. Akan tetapi, ketika tukang penatu ini didatangi seorang ahli ibadah yang meminta makanan, setiap potong roti yang ia berikan selalu disertai doa kebaikan. Para malaikat mengaminkan doa tersebut, lalu Allah Ta‘ala mengutus malaikat kepadaku untuk mengekang mulutku dengan tali kekang dari besi.”

Maka Nabi Isa Alahissalam bersabda kepada tukang penatu itu, “Perbaikilah tingkah lakumu. Dosa-dosamu telah diampuni karena berkah sedekahmu kepada ahli ibadah.”

Read Entire Article
Politics | | | |