loading...
Nabi Daud AS bertobat secara terus menerus dengan cara bersujud kepada Allah selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum, sampai akhirnya Allah terima tobatnya. Foto ilustrasi/ist
Kisah para nabi yang terjadi di bulan Muharram dialami juga oleh Nabi Daud Alaihissalam. Yakni Nabi Daud AS bertobat secara terus menerus dengan cara bersujud kepada Allah selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum.
Mengapa Nabi Daud bertobat seperti itu? Diriwayatkan, tobat Nabi Daud ini terkait kesalahannya mencintai istri seorang petani. Allah menerima tobat Nabi Daud pada bulan Muharam , tepatnya 10 Muharam . Dalam buku "Mengungkap Rahasia Shalat" karya Syamsuddin Noor disebutkan Nabi Daud as selain sebagai nabi juga seorang raja. Beliau sempat melakukan kesalahan sehingga Allah SWT langsung menegurnya. Beliau mencintai istri seorang petani dan meminta suaminya menceraikan istrinya itu untuk ia persunting.
Dua malaikat menegur Nabi Daud, dan sang Raja Daud pun menyesal. Beliau tobat dengan terus-menerus bersujud kepada Allah selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum.
Saat memerintah negerinya, Nabi Daud didampingi oleh 99 wanita yang resmi menjadi istrinya.
Dalam suatu waktu, Nabi Daud bermaksud untuk mencukupkan jumlah istrinya menjadi 100. Namun, yang diinginkannya adalah wanita yang sudah bersuamikan seorang petani.
Baca juga: Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Nabi Daud adalah seorang raja kadang keinginannya selalu mesti dituruti. Sang Raja Daud pun meminta agar si petani itu menceraikan istrinya. Kemudian, Nabi Daud as akan memperistrinya.
Kelakuan Raja Daud itu sepertinya biasa dilakukan para raja pada waktu itu. Bahkan terjadi dalam adat istiadat pada zaman itu. Akhirnya, terjadilah dialog antara Nabi Daud dengan si petani. “Mengapa baginda meminta istri saya? Padahal, istri baginda telah berjumlah 99,” ujar si petani.
Nabi Daud as menjawab, “Hai Pak Tani, sesungguhnya saya ingin mencukupkan istri-istri saya menjadi 100.”
Apa daya, Pak Tani hanyalah seorang rakyat biasa. Menolak keinginan rajanya, tentu tidak berani. Dalam hatinya, ia tidak menerima keinginan Nabi Daud as agar dia menceraikan istrinya dan menyerahkannya kepada sang Raja.
















































