Kutai Jadi Benteng Pelestarian Flora Hutan Hujan Tropis

10 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, KUTAI TIMUR -- Taman Nasional Kutai (TNK) terus memperkuat perannya sebagai salah satu benteng pelestarian hutan hujan tropis Indonesia. Kawasan seluas 193.753 hektare di Kalimantan Timur itu menjadi habitat bagi ribuan jenis tumbuhan, termasuk sejumlah flora penting yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem.

Balai Taman Nasional Kutai saat ini menjaga kelestarian sedikitnya enam flora kunci, yakni pasak bumi (Eurycoma longifolia), ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri), bendang (Borassodendron borneense), meranti (Shorea spp), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta ekosistem mangrove di kawasan pesisir.

Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri mengatakan, perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, dan rehabilitasi hutan menjadi langkah utama untuk menjaga keberlanjutan flora khas Kalimantan tersebut.

"Perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, serta program rehabilitasi hutan menjadi prioritas utama kami agar keberadaan tanaman khas ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan," ujar Syaiful di Kutai Timur, Sabtu (13/6/2026).

Keberadaan flora tersebut tidak hanya penting dari sisi keanekaragaman hayati, tetapi juga menopang fungsi ekologis hutan hujan tropis. Mangrove, misalnya, berperan melindungi pesisir dari abrasi sekaligus menjadi tempat pemijahan berbagai biota laut. Sementara meranti membentuk tajuk hutan dataran rendah yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

TNK juga memberikan perhatian khusus terhadap pohon ulin yang dikenal sebagai flora identitas Kalimantan. Populasi pohon tersebut mengalami tekanan akibat eksploitasi pada masa lalu karena kayunya memiliki nilai ekonomi tinggi dan dikenal sangat kuat.

"Langkah serupa diterapkan untuk memproteksi kelompok pohon meranti, yang kayunya sangat diminati pasar, namun kini terancam alih fungsi lahan meski peranannya krusial sebagai tempat berlindung satwa endemik seperti orangutan," jelas Syaiful.

Selain itu, pengelola kawasan mendorong budidaya pasak bumi untuk mengurangi tekanan pemanfaatan langsung dari alam. Tanaman herbal tersebut banyak dicari karena dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan.

Patroli pengawasan juga dilakukan secara rutin untuk menjaga kelestarian anggrek hitam, salah satu flora ikonik Kalimantan yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan.

"Patroli pengawasan turut kami kerahkan untuk memantau kelestarian anggrek hitam, tanaman epifit ikonik berbibir bunga gelap yang hidup menempel pada pohon besar dan sangat rentan mati jika terjadi perubahan kelembapan mikroklimat hutan," ungkap Syaiful.

Di kawasan dengan curah hujan tinggi, perlindungan juga diberikan kepada pohon bendang, palma endemik Kalimantan yang buahnya menjadi sumber pakan berbagai satwa liar. Keberadaannya berperan penting dalam menjaga rantai makanan alami di dalam hutan.

Sementara di wilayah pesisir yang berbatasan dengan Selat Makassar, pengelola kawasan berupaya menjaga ekosistem mangrove dari ancaman pencemaran. Selain menjadi pelindung pantai, mangrove juga berfungsi menyerap karbon dan mendukung produktivitas perikanan pesisir.

Taman Nasional Kutai saat ini tercatat menjadi habitat bagi 1.302 jenis flora dari 118 famili, termasuk delapan genus Dipterocarpaceae dan 15 spesies endemik. Kekayaan hayati tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu wilayah penting dalam menjaga keberlanjutan hutan hujan tropis Indonesia di tengah tekanan alih fungsi lahan dan perubahan lingkungan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |