Melindungi atau Mengontrol? Psikolog Ungkap Beda Tipis Keduanya dalam Pola Asuh Anak

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Dalam membesarkan anak, orang tua menginginkan yang terbaik. Namun, tanpa disadari, batasan antara "melindungi demi kebaikan" dan "mengontrol demi ambisi" sering kali menjadi kabur.

Hubungan yang awalnya didasari kasih sayang bisa berubah menjadi beban jika orientasi orang tua mulai bergeser. Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan ada perbedaan mendasar dalam cara orang tua memandang posisi anak di dalam keluarga. Menurut Prof Rose, orang tua yang mengayomi dan melindungi akan menjadikan kebahagiaan anak sebagai pusat orientasi utama.

"Orang tua yang mengayomi dan melindungi itu kiblat kebahagiaannya adalah anak. Anak diharapkan bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas, kemampuan, dan potensinya, serta mendapatkan kebahagiaan yang sesuai untuk dirinya," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Selasa (20/1/2026).

Sebaliknya, orang tua yang mengontrol anak kerap memaksakan standar kebahagiaan versi orang tua sendiri. Dalam kondisi ini, lanjut Rose, kebahagiaan yang diciptakan sebenarnya lebih berorientasi pada kepuasan orang tua, bukan anak.

"Orang tua yang mengontrol anak itu takut anaknya mengalami sesuatu, sehingga dikontrol. Padahal apa yang ditakuti orang tua belum tentu juga ditakuti oleh anak," kata dia.

Prof Rose mengatakan orang tua seperti ini sering kali memiliki standar tertentu yang ingin dicapai, meski belum tentu sejalan dengan keinginan anak. la menekankan pentingnya memahami makna kebahagiaan dari sudut pandang anak.

"Kalau orang tua ingin anaknya bahagia, harus ditanyakan dulu apa makna bahagia menurut anak, bukan menurut versi orang tua. Karena setiap manusia itu berbeda," kata dia.

Ketika ditanya tentang orang tua yang Narcissistic Personality Disorder (NPD), Prof Rose menjelaskan bahwa individu dengan NPD biasanya memiliki gangguan kepribadian narsistik yang cenderung memusatkan segala sesuatu pada dirinya sendiri dan memiliki empati yang rendah terhadap orang lain. "Biasanya mereka sangat membutuhkan apresiasi, ingin dipahami, dan ingin diakui. Segala sesuatu berpusat pada dirinya, tanpa melihat bahwa orang lain juga punya kebutuhan untuk diperhatikan," ujar Rose.

la menambahkan, individu dengan NPD kerap menunjukkan perilaku manipulatif, arogan, kurang sensitif, serta sangat reaktif terhadap lingkungan. "Sedikit-sedikit bisa marah, ingin dilihat, ingin diakui. Itu ciri-ciri dari Narsistic Personality Disorder," kata dia.

Meski demikian, Prof Rose menilai memutus hubungan dengan orang tua bukan solusi yang bijaksana. "Sebetulnya bisa juga tidak usah putus hubungan, karena bagaimanapun itu adalah orang tua," kata Prof Rose.

Read Entire Article
Politics | | | |