Menjaga Napas, Jiwa, dan Kehidupan di Tengah Kepungan Asap Karhutla

10 hours ago 10

loading...

Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (periode 2012-2015). Foto/Dok. SINDOnews

Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 2012–2015
Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) gambut bukan sekadar persoalan ekologi atau agenda diplomasi antarnegara, melainkan krisis nyata yang setiap tahun mengancam kehidupan sehari-hari jutaan masyarakat Indonesia. Ketika ekosistem gambut terbakar, api yang menjalar di bawah permukaan tanah menghasilkan kabut asap pekat yang membawa partikel beracun dan menyelimuti pemukiman warga dalam waktu yang panjang, kadang berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Krisis ini menuntut respons yang menyeluruh, bukan hanya soal fisik semata. Tiga hal sekaligus dipertaruhkan: napas (kesehatan tubuh), jiwa (ketahanan mental), dan kehidupan yang lebih luas, mulai dari keselamatan bertransportasi, kesejahteraan hewan, hingga solidaritas antarwarga. Tulisan ini mengajak masyarakat memahami dan menjalankan langkah-langkah perlindungan diri secara utuh, agar dampak buruk bencana asap dapat ditekan seminimal mungkin.

Menjaga Napas: Melindungi Kesehatan Fisik dari Partikel Berbahaya
Kabut asap karhutla gambut mengandung kombinasi berbahaya berupa partikel mikro (PM2,5), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan berbagai senyawa organik volatil. Paparan zat-zat ini tidak hanya memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), tetapi juga dapat memperburuk penyakit kronis seperti asma dan bronkitis, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

A. Mitigasi Saluran Pernapasan dan Kualitas Udara Ruangan
Pertama, Gunakan masker standar respirator (N95/KN95). Masker kain atau masker bedah biasa kurang efektif menyaring partikel mikroskopis PM2,5. Gunakan masker N95/KN95 setiap kali harus keluar rumah agar penyaringan partikel beracun berlangsung maksimal.

Kedua, isolasi udara bersih di dalam rumah. Tutup rapat pintu, jendela, dan celah ventilasi selama tingkat kepekatan asap tinggi. Bila memungkinkan, operasikan pemurni udara (air purifier) berfilter HEPA untuk menyaring partikel berbahaya di dalam ruangan.

Ketiga, bersihkan rumah tanpa menerbangkan debu. Hindari menyapu lantai dengan sapu kering karena akan menerbangkan kembali partikel endapan asap. Gunakan kain pel basah untuk membersihkan lantai dan permukaan barang.

Keempat, hentikan sumber polusi dari dalam rumah. Hindari membakar sampah, merokok, atau menggunakan obat nyamuk bakar, karena semua itu menambah beban iritasi pada saluran pernapasan yang sudah terpapar asap dari luar.

B. Nutrisi dan Hidrasi untuk Pemulihan Tubuh
Pertama, konsumsi air putih yang cukup membantu meluruhkan partikel racun yang tersangkut di saluran tenggorokan. Perbanyak pula asupan makanan kaya antioksidan, seperti buah dan sayuran segar, untuk membantu tubuh melawan stres oksidatif dan peradangan akibat paparan polutan asap secara terus-menerus.

Kedua, tanda bahaya medis, segera cari pertolongan dokter. sesak napas berat, nyeri dada, batuk persisten disertai lendir pekat atau darah, pusing terus-menerus, atau kondisi lemas berlebihan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit penyerta (komorbid). Dalam kondisi tersebut, segera kunjungi fasilitas kesehatan atau Puskesmas terdekat tanpa menunda.

Read Entire Article
Politics | | | |