REPUBLIKA.CO.ID, Penurunan drastis populasi burung junai emas (Caloenas nicobarica) di Pulau Jiew, Halmahera Tengah, menjadi alarm serius bagi konservasi satwa di Indonesia Timur. Burung merpati hutan berwarna hijau metalik itu kini kian jarang terlihat, padahal dahulu populasinya mencapai ribuan setiap musim berkembang biak.
Kondisi tersebut menggelisahkan Akhmad David Kurnia Putra, pengamat burung sekaligus mantan polisi kehutanan. Ia pertama kali menyadari ancaman terhadap junai emas saat bertugas di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara, ketika menyaksikan perburuan berlangsung dalam skala besar.
“Masyarakat di sana tidak hanya memburu, tetapi ‘memanen’ burung junai emas. Saya menyebutnya memanen karena mereka mengambil junai emas hingga ribuan, dan ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an,” kata David.
Menurut David, sebagian besar warga tidak memahami status junai emas sebagai satwa dilindungi. Mereka juga belum melihat potensi lain selain nilai ekonomi jangka pendek dari hasil perburuan.
Padahal, Pulau Jiew merupakan lokasi penting bagi siklus hidup junai emas. Setiap November hingga Maret, burung-burung ini datang dari berbagai pulau kecil di sekitarnya untuk berkembang biak di pulau seluas sekitar 18 hektare tersebut.
“Bayangkan jika satu kelompok burung diburu sampai habis. Artinya, kelompok junai emas itu tidak akan pernah kembali ke pulau asalnya,” ujarnya.
Krisis ini sejalan dengan temuan International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang pada 2020 menetapkan junai emas sebagai satwa terancam punah akibat kerusakan habitat dan perburuan. Bagi David, data itu bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata hilangnya kekayaan hayati di wilayah timur Indonesia.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, David ikut menggagas Kepak Emas, sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan masyarakat, Pemerintah Daerah Halmahera Tengah, pemerintah pusat, dinas perikanan dan instansi terkait, komunitas, akademisi, Balitbangda Provinsi Maluku Utara, hingga para mantan pemburu junai emas.
Pendekatannya sederhana, tetapi tidak mudah, yaitu membuka ruang dialog. David dan tim turun langsung menemui warga, pedagang, serta pemburu untuk memahami cara pandang mereka terhadap junai emas dan Pulau Jiew.
Ia menyadari upaya pelestarian tidak akan berjalan tanpa melibatkan aktor-aktor yang paling dekat dengan hutan dan pesisir. Pengalamannya mengikuti program kepemimpinan berkelanjutan membentuk cara kerjanya, yakni mendengar lebih dulu, memetakan jejaring sosial, lalu membangun solusi bersama masyarakat.
Pendekatan dari hati ke hati itu kemudian berkembang menjadi gerakan adopsi sarang junai emas. Model ini menghubungkan masyarakat lokal dengan warga di luar Halmahera melalui skema insentif ekonomi, sehingga perlindungan sarang menjadi sumber pendapatan alternatif.
“Kami berhasil menggaet satu kelompok pemburu untuk berhenti dari kegiatan perburuan, dan membantu kami dalam gerakan adopsi sarang junai emas,” kata David.
Perubahan itu tidak terjadi seketika. Prosesnya diwarnai obrolan panjang di kebun dan pesisir, kunjungan rumah ke rumah, hingga diskusi informal yang perlahan membangun kepercayaan. Dari situ, kesadaran kolektif mulai tumbuh bahwa menjaga junai emas berarti menjaga masa depan lingkungan mereka sendiri.
Kini, meski sejak awal 2025 David bertugas di Jawa Timur, keterikatannya dengan Pulau Jiew tidak terputus. Ia masih memantau laporan warga, mengikuti aktivitas komunitas melalui media sosial, berdiskusi dengan rekan-rekan lapangan, dan terus menyuarakan pentingnya perlindungan satwa di berbagai forum.
“Bukan hanya junai emas yang berharga, tetapi jenis-jenis burung lain juga harus kita jaga keberadaannya,” ujarnya.
Bagi David, keberlanjutan gerakan ini tidak bertumpu pada satu orang. Kuncinya ada pada masyarakat yang memilih melindungi habitat mereka sendiri. Dari sana ia berharap Pulau Jiew kelak dapat berkembang menjadi pusat pengamatan dan penelitian junai emas, sekaligus ruang belajar hidup tentang kolaborasi warga dalam menghadapi krisis lingkungan.

1 hour ago
3















































