Menyemai Toleransi di Pulau Dewata: Perjalanan Edukatif Study Religi Budaya MAN 3 Bantul 2026

2 hours ago 2

Image Tri Atminii

Eduaksi | 2026-01-21 14:32:00

BANTUL – Mengambil latar keindahan dan kekayaan tradisi Pulau Dewata, MAN 3 Bantul sukses menyelenggarakan kegiatan Study Religi Budaya (SRB) pada 19 hingga 21 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa kelas XI dengan tujuan untuk mengeksplorasi secara langsung keragaman budaya serta moderasi beragama di Bali. Perjalanan ini menjadi ruang belajar terbuka bagi siswa untuk memahami bagaimana nilai-nilai keagamaan dan adat istiadat dapat berjalan beriringan secara harmoni.

Rombongan bertolak dari Bantul menuju Bali dengan semangat tinggi untuk menimba ilmu di luar ruang kelas. Setibanya di Bali, destinasi pertama yang dikunjungi adalah kompleks Puja Mandala di Nusa Dua. Tempat ini menjadi simbol nyata toleransi, di mana lima tempat ibadah dari agama yang berbeda berdiri berdampingan dalam satu area. Siswa diajak untuk melihat langsung bagaimana praktik moderasi beragama diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang inklusif.

Selain aspek religi, siswa juga mengeksplorasi kekayaan sejarah dan arsitektur di Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul. Di sana, mereka belajar tentang pentingnya pelestarian alam yang menyatu dengan nilai spiritual masyarakat lokal. Pemandangan danau yang asri dipadukan dengan penjelasan edukatif dari pemandu memberikan pemahaman baru bagi siswa mengenai konsep keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tak ketinggalan, aspek budaya diperdalam melalui kunjungan ke pusat kerajinan dan pertunjukan seni di daerah Ubud dan Gianyar. Siswa berkesempatan melihat langsung proses pembuatan kain batik khas Bali dan kerajinan perak, serta menyaksikan pertunjukan tari yang sarat akan makna filosofis. Pengalaman ini diharapkan mampu memupuk rasa bangga dan cinta siswa terhadap warisan budaya nusantara yang telah diakui oleh dunia internasional.

Kepala MAN 3 Bantul menegaskan bahwa pemilihan Bali sebagai destinasi SRB tahun ini bukan tanpa alasan. Bali dianggap sebagai laboratorium budaya yang paling tepat untuk mengajarkan siswa tentang cara menghargai perbedaan di tengah masyarakat global. "Kami ingin lulusan MAN 3 Bantul memiliki wawasan yang luas, berakhlak mulia, dan memiliki sikap menghormati terhadap keyakinan serta budaya orang lain tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim," tuturnya.

Selama kegiatan berlangsung, para siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjalankan tugas observasi lapangan. Mereka dibekali dengan buku panduan untuk mencatat informasi penting dan melakukan wawancara singkat dengan tokoh masyarakat atau pengelola tempat wisata. Hal ini bertujuan untuk melatih keterampilan komunikasi serta kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyerap informasi yang mereka temui selama perjalanan.

Antusiasme siswa tampak sangat besar, terutama saat mereka diajak untuk melakukan refleksi diri dan doa bersama di sela-sela padatnya agenda kunjungan. Keharmonisan antarwarga madrasah semakin erat melalui momen-momen kebersamaan selama di perjalanan. Program ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas, namun bisa melalui pengalaman langsung yang menyentuh hati dan pikiran.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |