Merancang Masa Depan Global Keluarga Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bagi semakin banyak keluarga Indonesia saat ini, masa depan tidak lagi dibatasi oleh geografi. Banyak keluarga kini merencanakan langkah besar, mulai dari mengirim anak menempuh pendidikan di luar negeri, membangun karier internasional, hingga memiliki dan mengelola aset global. Perencanaan yang semula terpaut lokal kini berubah menjadi lintas generasi dan lintas mata uang.

Namun, di balik rencana besar tersebut, terdapat tantangan yang semakin nyata. Ketika impian keluarga dihitung dalam dolar AS, perencanaan keuangan masih bergantung pada rupiah dalam kondisi pasar yang fluktuatif.

Data biaya pendidikan tinggi internasional menunjukkan tekanan nyata bagi keluarga. Pendidikan sarjana empat tahun di Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan sekitar 200.000 dolar AS hingga lebih dari 350.000 dolar AS. Di Australia, yang menjadi pilihan bagi sekitar 24.000 pelajar Indonesia, total biaya pendidikan dan biaya hidup berkisar antara 125.000 dolar AS hingga 245.000 dolar AS. Sementara itu, di Malaysia jumlah tersebut mencapai sekitar 40.000 dolar AS.

Tekanan finansial serupa juga terlihat di sektor properti global. Di Singapura, misalnya, harga rata-rata kondominium telah mencapai sekitar 1,9 juta hingga 2,1 juta dolar AS, dengan total kebutuhan pendanaan hingga 60 persen dari harga pembelian setelah memperhitungkan pajak tambahan bagi warga negara asing.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mengalami pelemahan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Dari sekitar Rp 13.389 per dolar AS pada 2015, rupiah merosot menjadi sekitar Rp 16.985 pada Januari 2026, mencerminkan depresiasi sekitar 27 persen. Dampaknya terasa nyata pada perencanaan keuangan jangka panjang keluarga. Salah satunya, biaya pendidikan yang setara dengan 200.000 dolar AS, yang pada 2015 bernilai sekitar Rp 2,68 miliar, kini meningkat menjadi kira-kira Rp 3,39 miliar, atau bertambah lebih dari Rp 700 juta semata akibat pergerakan kurs.

Namun, tekanan nilai tukar ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan dasar seperti pendidikan dan properti. Dalam skala yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dampak serupa juga dirasakan pada barang konsumsi yang dihargai dalam dolar AS. Sebagai contoh, sebuah smartphone premium asal Amerika Serikat pada 2022 dihargai sekitar 1.099 dolar AS. Tiga tahun kemudian, versi terbarunya dipasarkan dengan harga sekitar 1.199 dolar AS. Secara nominal dalam dolar, kenaikannya tampak relatif normal.

Namun, ketika dikonversikan ke rupiah, harganya meningkat dari sekitar Rp 16,2 juta menjadi sekitar Rp 19,3 juta, atau selisih lebih dari Rp 3 juta. Contoh ini menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya berdampak pada rencana besar di masa depan, tetapi juga secara perlahan menggerus daya beli keluarga dalam pengeluaran sehari-hari. Tanpa perencanaan yang selaras dengan mata uang kebutuhan, selisih biaya dapat terus melebar dari waktu ke waktu.

Tekanan ini tidak berhenti pada nilai tukar saja. Inflasi Indonesia selama 2025 tercatat sebesar sekitar 2,92 persen secara year-on-year, sebagaimana dicatat oleh Badan Pusat Statistik. Kenaikan harga barang dan jasa—mulai dari pangan, transportasi, hingga perumahan—turut memengaruhi kemampuan keluarga dalam menjaga nilai perencanaan keuangan mereka ke depan.

Dengan kombinasi tekanan kurs dan inflasi domestik, tantangan keluarga Indonesia hari ini bukan hanya sekadar menjaga daya beli saat ini, tetapi juga memastikan kesiapan finansial untuk kebutuhan masa depan yang berskala global.

Perlindungan Finansial yang Selaras dengan Aspirasi

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perencanaan finansial tidak lagi cukup hanya besar secara nominal, tetapi juga harus relevan secara konteks, baik dari sisi mata uang maupun tujuan hidup. Saat biaya pendidikan, kesehatan, dan investasi kerap ditetapkan dalam dolar AS, perlindungan jiwa pun perlu selaras, yakni tersedia dalam mata uang yang tepat saat momen penting tiba.

Read Entire Article
Politics | | | |