NATO Runtuh demi Ambisi Donald Trump atas Greenland?

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ambisi besar Washington untuk membentangkan bendera bintang-garis di atas hamparan es abadi kini telah membawa dunia ke ambang retakan geopolitik yang paling berbahaya sejak Perang Dingin.

Greenland, yang selama berabad-abad menjadi benteng kesunyian di Arktik, mendadak berubah menjadi panggung drama kekuasaan di mana Presiden Donald Trump secara agresif mempertaruhkan nasib NATO demi ambisi ekspansi teritorial, memaksa sekutu-sekutu terdekat Amerika di Eropa untuk memilih antara tunduk pada hegemoni ekonomi atau menyaksikan runtuhnya aliansi militer yang telah menjaga perdamaian Barat selama 77 tahun.

Memasuki Januari 2026, nasib aliansi diplomatik NATO berada di titik nadir. Ketegangan ini dipicu oleh desakan provokatif Trump yang menuntut akuisisi penuh atas Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark.

Melalui platform Truth Social, Trump tak segan mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menunjukkan dirinya memegang bendera Amerika di sebidang tanah bertuliskan: “Greenland adalah wilayah Amerika yang didirikan pada tahun 2026.” Di belakangnya, berdiri Wakil Presiden J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, sebuah metafora visual tentang penaklukan wilayah baru di abad modern, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.

Trump mendasarkan argumennya pada stabilitas keamanan nasional, menuduh sekutu Eropanya "lemah" terhadap pengaruh China dan Rusia. Ia bahkan merujuk pada keputusan Inggris menyerahkan Kepulauan Chagos tahun lalu sebagai "kebodohan besar" yang tidak boleh terulang di Arktik.

Bagi Trump, Denmark dianggap tidak mampu lagi melindungi pulau raksasa tersebut. "Denmark dan sekutu Eropanya harus bertindak bijaksana," ancam Trump menjelang kunjungannya ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang dijadwalkan menjadi medan diplomasi paling panas di tahun 2026.

Secara geografis, Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang terletak di antara Samudra Atlantik Utara dan Samudra Arktik. Meskipun secara fisik berada di lempeng tektonik Amerika Utara, secara politik Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark sebagai wilayah otonom.

Denmark dan Uni Eropa berupaya mati-matian mempertahankan Greenland bukan hanya demi kedaulatan, tetapi karena posisi strategisnya sebagai gerbang kontrol atas rute pelayaran kutub yang baru terbuka serta kekayaan mineral langkanya. Kehilangan Greenland berarti kehilangan pengaruh Eropa di Arktik, sekaligus memberikan legitimasi bagi praktik aneksasi wilayah yang seharusnya sudah ditinggalkan di era modern.

Ancaman Trump tak berhenti pada retorika. Ia menggunakan "bazooka ekonomi" berupa tarif impor yang mencekik: 10 persen mulai Februari, melonjak menjadi 25 persen di bulan Juni bagi negara-negara yang berani menentangnya. Bahkan, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Sekjen NATO Mark Rutte menjadi sasaran penghinaan publik setelah pesan pribadi mereka dibocorkan oleh Trump ke publik.

Read Entire Article
Politics | | | |