REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL -- Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, M Afifudin atau Afif, mengungkapan, bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, telah menyebabkan 2.460 warga mengungsi. Dari hampir 700 rumah rumah terdampak, sebanyak 413 di antaranya mengalami rusak berat.
Afif menjelaskan, bencana tanah bergerak di Desa Padasari terjadi pada 2 Februari 2026. Hari itu, dan beberapa hari sebelumnya, desa tersebut tepah dilanda hujan lebat. Pada malam hari, warga mulai mendengar suara gemeretak pada bangunan rumah mereka. Retakan kemudian muncul di lantai rumah.
"Kalau analisis sementara saya, di daerah situ adalah cekungan. Sisi utaranya adalah bukit yang memang kondisi vegetasinya sudah berkurang, sehingga air itu jenuh di titik di atas permukiman. Karena hujan intensitasnya tinggi, air itu mengakibatkan landslide atau longsor di dalam. Saya menduga seperti itu," ungkap Afif ketika ditanya perihal penyebab bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Selasa (10/2/2026).
Berbeda dengan sisi utara, sisi selatan Desa Padasari merupakan pemakaman yang konturnya agak menanjak. Afif menagatakan, analisis sementaranya terkait penyebab terjadinya tanah bergerak di Desa Padasari didukung dengan munculnya aliran air cukup jernih dari fondasi rumah yang telah ambruk.
"Saya duga di bawah itu ada lapisan batuan yang kedap terhadap air. Sehingga tanah yang di atas lapisan batuan menjadi gembur, jenuh, dan akhirnya air mengalir ke daerah yang lebih rendah," ujar Afif.
Dia menerangkan, Desa Padasari terdiri dari lima dukuh. Terdapat dua dukuh yang terdampak tanah bergerak, yakni Padasari dan Padareka. Sementara tiga dukuh lainnya tak terimbas.
"Dari 860 rumah yang kami data, ada 413 rumah rusak berat, 189 rusak sedang, 97 rusak ringan, dan 164 lainnya yang dalam kategori masih kondisi baik. Tapi yang kategori baik pun, kalau masih di daerah rawan, khususnya di area terdampak, masih sangat berpotensi mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat," kata Afif.
Afif menambahkan, sebuah bangunan pesantren di Desa Padasari turut ambruk akibat tanah bergerak. Selain itu, terdapat tiga bangunan sekolah yang ikut terdampak, terdiri dari PAUD, SD, dan SMP.
Warga yang tinggal di lokasi terdampak kini telah diungsikan. Menurut Afif, terdapat delapan titik atau posko pengungsian. "Jumlahnya 2.460 jiwa," ujarnya.
Dia menerangkan, warga yang kini tinggal di pengungsian akan direlokasi ke hunian sementara (huntara). Huntara akan dibangun di lokasi lebih aman dan stabil. "Sekarang sedang tahap pemilihan lokasi, kajian singkat dari Badan Geologi dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah untuk memastikan lahan relokasi itu aman dari gerakan tanah serupa," kata Afif seraya menambahkan bahwa huntara nantinya bakal dibangun oleh BNPB.
Menurut Afif, jarak potensi lokasi huntara dengan Desa Padasari sekitar tiga kilometer. Warga hanya akan tinggal sementara di sana sebelum nantinya difasilitasi pemberian hunian tetap (huntap).
Afif mengungkapkan, bencana tanah bergerak di Desa Padasari sudah pernah terjadi pada 2022. Namun dampaknya tidak separah seperti kejadian terbaru.

3 hours ago
5















































