REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR - Sebanyak 20 siswa terpilih dari empat sekolah akan menjalankan tugas sebagai agen perubahan selama satu tahun ke depan. Mereka dilantik sebagai Duta Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang disebut Menstrucaraka.
Ketua Pelaksana, Gita Saraswati Palgunadi, menyatakan Program Menstrucaraka 2025 menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, remaja dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam komunitas mereka.
Dia mengatakan, program kolaborasi Bumi Indonesia, bersama Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia (YWAI) dan Benjamin Foundation ini tidak hanya mengajarkan pentingnya manajemen kebersihan menstruasi, tetapi juga membuktikan bahwa keterlibatan aktif remaja dapat mengatasi stigma dan tabu yang telah lama melekat di masyarakat.
Acara yang digelar pada Sabtu, 31 Januari 2026 ini melantik bertujuan menyeleksi calon duta MKM yang diharapkan dapat menyebarkan informasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi secara lebih luas, tidak hanya kepada remaja perempuan, tetapi juga remaja laki-laki.
"Dengan demikian, stigma dan tabu seputar menstruasi diharapkan dapat terkikis, karena perempuan mengalami dan laki-laki memahami," kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dia menjelaskan Menstrucaraka 2025 terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari mentoring ke 19 sekolah menengah pertama terpilih di Provinsi Bali pada bulan November 2025.
Sebanyak lima siswa dari setiap sekolah dibentuk menjadi 1 tim yang menjalankan student project terkait dengan Manajemen Kebersihan Menstruasi di masing-masing sekolah serta mendapatkan student project kit untuk mendukung kegiatan mereka. Sebanyak 4 sekolah dengan student project terbaik diundang untuk melanjutkan kompetisi dalam Grand
Empat sekolah dengan student project yang unggulan mempresentasikan project nya di hadapan dewan juri, antara lain:
Tim SMPN 2 Ubud sebagai Student Project Terbaik, menyelenggarakan Talkshow dan pameran edukasi di sekolah tentang menstruasi, kesehatan reproduksi remaja, dan HIV/AIDS.
Tim SMPN 9 Denpasar sebagai Juara 1, menyelenggarakan kegiatan Kampanye menstruasi sehat melalui pembuatan she box berbasis QR, sosialisasi, video edukasi, dan pameran foto voice di sekolah.
Tim SMPN 1 Selemadeg Barat sebagai Juara 2, menyelenggarakan pameran dan sosialisasi edukasi menstruasi sehat untuk siswa didukung dengan konten vlog media sosial.
Tim SMPN 1 Seririt sebagai Juara 3, membuat sudut edukasi permanen di sekolah yang menyediakan informasi, media visual, dan perlengkapan kebersihan menstruasi.
Pada puncak acara, keempat tim Caraka mempresentasikan proyek mereka di hadapan publik di Lippo Mall Kuta, di mana mereka berhasil mengedukasi lebih dari 2500 siswa secara offline dan online.
Dengan dukungan dari Kolaborasi Bumi Indonesia, Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia dan Benjamin Foundation, program ini diharapkan dapat terus berkembang dan menginspirasi perubahan positif di kalangan remaja, khususnya dalam menghapus stigma seputar menstruasi.

2 hours ago
3















































