Pence Ingatkan Trump: Perang Dagang dengan Kanada Bisa Hantam Ekonomi AS

4 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence memperingatkan perang dagang yang kembali memanas antara Washington dan Ottawa dapat berbalik menghantam perekonomian Amerika sendiri. Peringatan itu muncul setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif 50 persen terhadap sekitar 20 miliar dolar AS produk Kanada dan Ottawa bersiap membalas dengan tarif dalam nilai yang setara.

Pence menilai tarif impor pada akhirnya tidak semata-mata dibayar negara yang menjadi sasaran kebijakan Washington. Beban tersebut juga dapat jatuh kepada perusahaan dan konsumen Amerika melalui kenaikan biaya impor dan harga barang.

“Perusahaan dan konsumen Amerika yang membayar tarif Amerika,” kata Pence dalam wawancara dengan Dana Bash di program State of the Union CNN, Ahad (23/8/2026). Ia kemudian memperingatkan bahwa perang dagang dengan Kanada merupakan hal terakhir yang dibutuhkan ekonomi AS saat ini.

Pernyataan Pence menjadi penting karena Kanada bukan mitra dagang kecil bagi Amerika. Data Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR menunjukkan perdagangan barang dan jasa kedua negara mencapai sekitar 872,3 miliar dolar AS sepanjang 2025. Kanada juga merupakan salah satu pasar ekspor terbesar bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Hubungan kedua negara kini justru memasuki salah satu periode perdagangan paling tegang dalam beberapa dekade. Tarif 50 persen yang diberlakukan Washington pada Sabtu (22/8/2026) menyasar berbagai produk Kanada, termasuk anggur, furnitur, produk susu, semen, pakaian, peralatan memancing hingga perlengkapan hoki. Nilai ekspor yang terkena kebijakan baru itu mencapai sekitar 20 miliar dolar AS atau sekitar lima persen dari keseluruhan ekspor Kanada ke Amerika Serikat.

Berbeda dengan sejumlah tarif sebelumnya, pungutan terbaru tersebut juga tidak memberikan pengecualian kepada produk Kanada yang memenuhi ketentuan United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA). Padahal, perjanjian perdagangan yang dinegosiasikan pada periode pertama pemerintahan Trump itu selama ini menjadi benteng utama perdagangan bebas di Amerika Utara.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney akhirnya menghentikan perundingan setelah negosiasi intensif kedua negara gagal menghasilkan kesepakatan pada Jumat (21/8/2026).

“Kami tidak dapat menerima apa yang mereka tawarkan, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta,” kata Carney sebagaimana dilaporkan Reuters pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Carney mengatakan Washington mengajukan persyaratan baru pada tahap akhir negosiasi yang dianggap merugikan Kanada. Salah satu persoalan menyangkut perdagangan kendaraan serta permintaan yang dinilai dapat membatasi ruang Ottawa membuat kesepakatan dagang dengan negara lain.

Dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Carney mengatakan AS telah “meminta terlalu banyak dan menawarkan terlalu sedikit” dalam perundingan tersebut.

Ottawa kemudian memilih membalas. Kanada akan menerapkan tarif balasan secara dollar-for-dollar terhadap produk Amerika mulai 8 September 2026. Barang yang menjadi sasaran antara lain baja, produk susu, peralatan rumah tangga, mesin pertanian, pulp dan kertas serta elektronik.

Read Entire Article
Politics | | | |