Pertamina Groundbreaking Biorefinery Cilacap, Ubah Jelantah Jadi Bahan Bakar Hijau

2 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) memulai pembangunan proyek Biorefinery Cilacap sebagai bagian dari strategi besar hilirisasi energi dan swasembada energi nasional. Proyek ini mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar hijau (green fuel) yang ramah lingkungan sekaligus menekan impor BBM.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Emma Sri Martini mengatakan, proyek biorefinery ini merupakan salah satu program strategis yang dicanangkan Presiden RI dan sejalan dengan agenda Asta Cita, khususnya pada aspek hilirisasi, industrialisasi, circular economy, dan ketahanan energi.

“Program Jelantah menjadi Energi Hijau ini mendukung hilirisasi dan industrialisasi, sekaligus mendukung transisi menuju energi hijau serta mengurangi impor BBM,” ujar Emma dalam acara groundbreaking proyek Biorefinery Cilacap, Jumat (6/2/2026).

Saat ini, fasilitas biorefinery Cilacap telah beroperasi dengan kapasitas 3.000 barel per hari (bpd). Pada tahap kedua, kapasitas produksi akan ditingkatkan menjadi 6.000 bpd. Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat menurunkan impor BBM dan berkontribusi mengurangi current account deficit.

Emma menambahkan, proyek ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem biofuel dan bioavtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF) nasional. Produk bioethanol dan biofuel yang dihasilkan akan dikirim ke terminal BBM Pertamina untuk proses blending, sebelum didistribusikan ke masyarakat melalui SPBU Pertamina.

“Biorefinery Cilacap akan menjadi hub pengembangan energi hijau, termasuk untuk mendukung program SAF yang saat ini mulai diimplementasikan di Indonesia,” kata Emma.

Dari sisi dampak ekonomi, proyek ini diproyeksikan memberikan multiplier effect signifikan. Berdasarkan kajian LPEM UI, pembangunan biorefinery Cilacap berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi hingga Rp199 triliun, menurunkan emisi karbon sekitar 600 ribu ton CO₂, serta menyerap ribuan tenaga kerja.

Selain itu, proyek ini juga mendorong tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 30 persen, sekaligus memberdayakan masyarakat melalui program pengumpulan minyak jelantah yang melibatkan sekitar 2.900 kepala keluarga di berbagai wilayah. Jumlah ini diproyeksikan terus bertambah seiring ekspansi proyek.

“Ekosistemnya sudah kami bangun, baik dari sisi feedstock maupun offtaker. Kami bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih, BGN, Gapul Ginggir, SPPG, serta sejumlah maskapai dan mitra internasional seperti Sumitomo untuk membangun hub bioavtur di kawasan Asia Pasifik,” ujar Emma.

Ke depan, Pertamina menargetkan Biorefinery Cilacap mampu mendukung implementasi biofuel nasional, termasuk bauran SAF 5 persen dan HVO 10 persen, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau global.

“Pertamina siap mendukung penuh agenda swasembada energi nasional dan penguatan ekonomi hijau Indonesia,” tegas Emma.

Read Entire Article
Politics | | | |