Poros Riyadh-Istanbul, Membangun Rel Baja dan Kemandirian Strategis Dunia Islam

8 hours ago 11

Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori, Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta, Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah babak baru dalam sejarah integrasi dunia Islam resmi dibuka di Riyadh pada Selasa (9/6/2026) lalu. Dalam sebuah momen bersejarah yang diprediksi akan mengubah peta logistik dan geopolitik Timur Tengah, Arab Saudi dan Turki secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerjasama perkeretaapian sebagaimana dilaporkan Republika pada Rabu (10/6/2026).

Kesepakatan krusial tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Transportasi dan Layanan Logistik Arab Saudi, Saleh al-Jasser, dan Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloglu.

Penandatanganan ini bukan sekadar seremoni teknis antarnegara. Ia adalah batu penjuru dari ambisi besar membangun jaringan kereta api modern yang akan membentang dari Riyadh hingga Istanbul, melintasi Yordania dan Suriah.

Proyek ini menjadi simbol nyata dari transformasi aliansi strategis antara Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang kini tidak lagi hanya berbicara tentang normalisasi, melainkan langkah konkret menuju kemandirian regional.

Di tengah memanasnya rivalitas AS-Israel dan Iran yang kerap menjadikan Timur Tengah sebagai arena proksi, langkah ini menjadi jawaban strategis atas kerentanan kawasan. Jika dahulu Jalur Hijaz (1908) dibangun sebagai pengikat persaudaraan umat, maka "Jalur Hijaz Abad ke-21" ini dirancang sebagai nadi ekonomi mandiri yang meminimalisir ketergantungan pada jalur laut Selat Hormuz yang rawan intervensi militer.

Proyek ini menjadi penegas bahwa poros Riyadh-Istanbul sedang merajut kembali kekuatan peradaban melalui dua pilar utama : diplomasi infrastruktur dan kemandirian industri militer. Di balik rel-rel yang akan terbentang, kedua negara juga memperkuat sinergi pertahanan—mulai dari akuisisi teknologi drone hingga kemitraan produksi alutsista—sebagai upaya menciptakan deterrence effect (daya gentar) yang kokoh bagi keamanan kawasan.

Dengan volume perdagangan yang terus melampaui angka $8,6 miliar (Rp. 153,68 triliun), kesepakatan ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh dunia : Timur Tengah kini mulai menata nasibnya sendiri. Ketika infrastruktur terhubung dan kapabilitas militer terjaga, dunia Islam tidak lagi harus menjadi "bulan-bulanan" konflik asing. Kereta api yang akan melintasi padang pasir dan pegunungan ini bukan hanya membawa kargo barang, tetapi juga membawa misi stabilitas, kedaulatan, dan kebangkitan kembali kekuatan dunia Muslim di era modern.

Di tengah memanasnya rivalitas AS-Israel dan Iran yang kerap menjadikan Timur Tengah sebagai arena proksi, sebuah pergeseran fundamental tengah terjadi di jantung dunia Islam. Setelah sempat meredup akibat ketegangan diplomatik pasca-2018, aliansi antara Arab Saudi dan Turki kini bertransformasi dari sekadar normalisasi menjadi sebuah poros strategis yang berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan secara permanen.

Langkah berani ini tidak lagi hanya di atas meja diplomasi, melainkan diwujudkan dalam dua pilar utama : pembangunan infrastruktur lintas batas dan kemandirian industri militer.

Jalur Hijaz Modern

Salah satu terobosan paling progresif adalah rencana pembangunan jaringan kereta api modern yang menghubungkan Riyadh hingga Istanbul. Proyek ini bukan sekadar proyek konektivitas biasa; ia adalah "Jalur Hijaz Abad ke-21".

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |