Rahasia Telomer

4 hours ago 5

Oleh Ahmdie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tempo hari, Prof Komaruddin Hidayat bertanya pada saya: Apakah usia itu sebuah takdir? Jika itu takdir, mengapa manusia berdoa minta panjang umur? Apakah ada ayat atau hadits doa minta panjang umur? Seorang guru besar, apalagi pernah menulis Psikologi Kematian, jika bertanya demikian, apa perlu saya jawab?

Tapi saya coba memahami, pada tubuh manusia, usia dan penuaan itu bukan peristiwa. Ia proses. Ia bukan letupan kembang api, melainkan lilin yang menipis sambil tetap tersenyum seolah masih panjang. Kita sering menyangka usia ditentukan kalender. Padahal tubuh tidak pernah membaca tanggal merah. Ia hanya menghitung kerusakan.

Di balik kulit yang masih bisa disepuh skincare, di balik wajah yang masih bisa ditipu filter, bedak dan gincu, ada tiga sistem yang bekerja seperti panitia kecil umur panjang: telomer sebagai penjaga ujung DNA, autofagi sebagai petugas kebersihan sel, dan ribosom sebagai buruh pabrik protein.

Jika ketiganya akur, tubuh awet. Jika salah satunya mogok, penuaan datang bukan sambil mengetuk pintu, tapi langsung duduk di ruang tamu. Itulah kesimpulan tiga orang ahli pemenang Hadiah Nobel. Tulisan pertama ini kita mulai dari telomer — makhluk mikroskopik yang lebih jujur sebagai identitas daripada KTP.

Telomer itu ibarat plastik kecil di ujung tali sepatu. Namanya aglet. Tanpa aglet, tali sepatu akan terurai, kusut, dan tak bisa lagi dimasukkan ke lubang sepatu. DNA manusia pun begitu. Ujung-ujungnya dilapisi telomer agar informasi genetik tidak rusak setiap kali sel membelah.

Masalahnya, setiap terjadi pembelahan sel, maka terjadi pula pemotongan kecil. Sedikit saja. Tapi rutin setiap hari, bahkan mungkin setiap detik. Dan hidup ini, sayangnya, terlalu rajin membelah sel: saat makan, terluka, stres, kurang tidur, marah meledak-ledak, semua meminta sel bekerja lembur.

Dr. Elizabeth Blackburn — yang kelak mendapat Nobel 2009 — menemukan bahwa telomer kita memendek seiring waktu. Bukan hanya karena usia, tapi karena cara atau gaya hidup. Ini penting. Karena artinya: tua bukan soal umur, tapi soal gaya hidup yang terlalu sering memaksa tubuh yang sejatinya tiap saat berkata, “sudah, cukup.”

Dalam riset terkenal bersama psikolog Elissa Epel, Blackburn menemukan sesuatu yang membuat dunia medis terdiam sejenak. Para ibu yang merawat anak sakit kronis memiliki telomer yang secara biologis tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Bukan karena mereka tidak makan vitamin, tapi karena stres terus.

Stres ternyata gunting telomer paling tajam. Musuh terbesar telomer justru stres ini, sementara obatnya paling murah — bahkan gratis. Tidak perlu resep dokter, kartu asuransi atau diskon marketplace. Tubuh hanya butuh satu hal yang sering kita anggap remeh: berhenti sebentar.

Ilmu saraf modern mencatat bahwa bernapas dalam-dalam selama 10–15 menit, doa yang khusyuk, dzikir perlahan, meditasi ringan, atau sekadar berjalan tanpa ponsel, itu semua mampu menurunkan hormon kortisol secara nyata. Kortisol inilah algojo telomer. Ia tidak membunuh sekaligus, tapi menggerogoti pelan-pelan.

Penelitian dari UCSF menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki aktivitas telomerase lebih tinggi — artinya, tubuh mereka masih sempat menambal kerusakan yang terjadi setiap hari. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin telah lama menulis panjang soal stres, emosi, marah (ghadhab).

Lucunya, kita rela membayar mahal untuk makanan organik, suplemen impor, dan alat olahraga canggih untuk anti-aging, tapi pelit memberi tubuh waktu tenang. Padahal ketenangan tidak dijual karena ia tidak bisa dipatenkan. Ia hanya hadir jika kita mau menepi sejenak dari kebisingan yang kita ciptakan sendiri.

Read Entire Article
Politics | | | |