Kapten Senegal Sadio Mane mengangkat piala bersama rekan satu timnya saat merayakan gelar juara Piala Afrika 2025 di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Ahad (18/1/2026) waktu setempat. Senegal berhasil menjadi juara Piala Afrika setelah mengalahkan Maroko dengan skor 1-0. Gol kemenangan Senegal dicetak Pape Alassne Gueye pada menit ke-94 babak perpanjangan waktu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raja Maroko Mohammed VI menegaskan bahwa insiden yang terjadi pada menit-menit akhir final Piala Afrika (AFCON) tidak akan memengaruhi hubungan persaudaraan antarnegara Afrika, khususnya antara Maroko dan Senegal. Ia meyakini, setelah emosi mereda, semangat persaudaraan Afrika akan tetap menang.
Pernyataan tersebut disampaikan Raja Mohammed VI menyusul insiden kontroversial pada laga final Piala Afrika antara Maroko dan Senegal, yang berlangsung pada Ahad lalu waktu Maroko. Dalam pertandingan tersebut, para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan penalti melalui tinjauan VAR. Mereka akhirnya kembali bermain dan keluar sebagai juara usai menang 1-0 melalui perpanjangan waktu.
Di luar lapangan, situasi sempat memanas. Sejumlah pendukung Senegal terlibat bentrokan dengan petugas keamanan Maroko ketika berusaha memasuki area lapangan setelah keputusan penalti tersebut.
“Final ini telah dinodai oleh insiden yang disayangkan dan perilaku yang tercela,” ujar Raja Mohammed VI dalam pernyataan resmi istana, Kamis (22/1/2026). Meski demikian, ia menegaskan bahwa ketegangan yang muncul bersifat sementara.
“Setelah gairah dan emosi mereda, persaudaraan antar-Afrika secara alami akan menang,” kata Raja Mohammed VI. Ia menambahkan, tidak ada peristiwa yang mampu merusak ikatan erat yang telah terjalin selama berabad-abad antara bangsa-bangsa Afrika.
Maroko dan Senegal selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik yang kuat. Senegal merupakan salah satu sekutu terdekat Maroko di Afrika, seiring meningkatnya investasi perusahaan dan perbankan Maroko di berbagai negara di benua tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Namun, beberapa jam setelah laga final, ketegangan sempat terlihat di media sosial kedua negara.
Raja Mohammed VI juga menilai penyelenggaraan Piala Afrika di Maroko sebagai bukti kemajuan negara tersebut. Ia menyebut turnamen itu sebagai “kesuksesan bagi seluruh Afrika”.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan setelah meninjau insiden yang terjadi pada laga final. Presiden FIFA Gianni Infantino turut mengecam perilaku para pemain serta anggota staf pelatih Senegal yang terlibat dalam insiden tersebut.
sumber : Reuters

2 hours ago
2















































