REPUBLIKA.CO.ID, ACEH UTARA -- Pemerintah Kabupaten Aceh Utara membutuhkan anggaran sebesar Rp27,5 triliun untuk melakukan pemulihan kembali pascabencana banjir. Hal itu disampaikan Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil.
"Kebutuhan tersebut berdasarkan perkiraan sementara dokumen rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir yang menyebabkan kerusakan sangat masif dan terdampak pada berbagai sektor, baik infrastruktur, perumahan dan permukiman penduduk, ekonomi-sosial, serta lintas sektor," kata Ismail menjelaskan di sela-sela rapat finalisasi Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca-Bencana Banjir (R3P) di Pendopo BupatiAceh Utara, Aceh, pada Rabu (21/1/2026).
Menurut dia, kondisi di lapangan telah menunjukkan fase pemulihan. Kemudian, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merekomendasikan status penanganan bencana beralih ke masa transisi selama tiga bulan, yakni terhitung mulai 25 Januari 2026.
Ismail mengatakan, dokumen R3P segera disepakati dan ditandatangani bersama oleh Forkopimda. Ini dapat menjadi data awal dan akan diperbarui setelah proses validasi selesai.
Bupati Aceh Utara juga menginstruksikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama tim validasi lintas unsur untuk melanjutkan verifikasi dan pemutakhiran data rumah yang terdampak.
Kemudian, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) segera mengoptimalkan layanan publik pada masa transisi, baik dari sektor kesehatan, pendidikan, sarana ibadah, dan sebagainya. Melaksanakan kembali gotong royong aparatur sipil negara (ASN) untuk mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana banjir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.200 jiwa hingga Senin (20/1/2026). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, mengatakan jumlah tersebut bertambah setelah adanya laporan satu korban meninggal dunia di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
“Selain korban meninggal, hingga saat ini tercatat sebanyak 143 orang masih dinyatakan hilang,” kata Abdul.
Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB juga melaporkan bahwa jumlah penduduk terdampak yang masih bertahan di lokasi pengungsian mencapai 113.903 jiwa. Mereka tersebar di berbagai wilayah terdampak bencana sejak banjir dan longsor melanda pada akhir November tahun lalu.
Menurut Abdul, dinamika jumlah pengungsi terus berubah seiring dengan proses pembersihan wilayah terdampak, pemulihan kawasan permukiman, serta pembangunan hunian sementara yang mulai berjalan di sejumlah daerah.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait terus mengoptimalkan penanganan darurat guna memastikan keselamatan masyarakat terdampak, terutama kelompok rentan.
“Upaya tanggap darurat dan pemulihan awal dilakukan secara terpadu agar transisi menuju tahap rehabilitasi dapat berjalan lebih cepat dan terukur,” ujarnya.
sumber : Antara

2 hours ago
3















































