Saat AS Berpaling ke Damaskus dan Turki Menuntut Pembubaran Total SDF

2 hours ago 3

Ilustrasi pasukan SDF berkonfrontasi dengan pasukan Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peta geopolitik Suriah di awal tahun 2026 mengalami guncangan hebat seiring dengan pergeseran dramatis loyalitas Washington yang melampaui logika diplomasi konvensional.

Amerika Serikat, yang selama satu dekade menjadi pelindung setia Pasukan Demokratik Suriah (SDF), kini justru berbalik arah memberikan legitimasi penuh kepada pemerintahan baru di Damaskus di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa, sosok yang secara kontroversial pernah memiliki rekam jejak sebagai komandan lapangan dalam struktur militansi ISIS.

Perubahan haluan ini memperlihatkan realitas "politik praktis" yang dingin, di mana kepentingan untuk menyatukan Suriah di bawah satu kendali pusat kini dianggap lebih mendesak daripada mempertahankan aliansi lama dengan milisi Kurdi.

Kondisi ini menjadi angin segar sekaligus amunisi politik bagi Turki yang sejak lama mengecam keberadaan SDF sebagai ancaman eksistensial. Presiden Recep Tayyip Erdogan terus menekan Washington untuk sepenuhnya menghentikan dukungan terhadap SDF, yang dianggap Ankara sebagai kepanjangan tangan dari organisasi teroris PKK.

Dalam percakapan telepon strategis dengan Donald Trump pada Rabu (21/1/2026), Erdogan menegaskan bahwa keharmonisan wilayah Suriah hanya bisa dicapai jika kelompok Kurdi tersebut melucuti senjata dan membubarkan diri. Bagi Turki, pergeseran sikap AS adalah kemenangan diplomatik yang telah dinanti selama empat dekade pemberontakan Kurdi di perbatasan mereka.

SDF sendiri merupakan aliansi militer yang dibentuk pada Oktober 2015 dengan tujuan utama memberantas kekhalifahan ISIS di Suriah. Didominasi oleh Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi, aliansi ini juga merangkul pejuang Arab dan Asyur untuk menciptakan kekuatan sekuler yang inklusif. Di bawah dukungan penuh persenjataan dan serangan udara AS, SDF berhasil bertransformasi dari sekadar milisi lokal menjadi kekuatan tempur paling efektif yang menjadi ujung tombak koalisi internasional di daratan Suriah.

Peran SDF dalam menghancurkan ISIS tidak bisa dipandang sebelah mata; mereka adalah aktor utama yang merebut kembali Raqqa pada 2017 dan Baghouz pada 2019, yang menandai runtuhnya kontrol teritorial ISIS secara total. Selama kampanye militer yang berdarah tersebut, SDF kehilangan lebih dari 11.000 personel. Selain itu, hingga saat ini mereka masih memikul tanggung jawab berat menjaga penjara-penjara berkeamanan tinggi yang menampung ribuan mantan pejuang ISIS dan keluarga mereka di fasilitas seperti al-Hol dan al-Shaddadi.

Namun, di mata Washington tahun 2026, era "disayang" itu telah berakhir. Utusan Khusus AS, Tom Barrack, melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa misi utama SDF sebagai pembasmi ISIS telah selesai secara fungsional. AS kini mendesak SDF untuk segera menyetujui integrasi ke dalam negara pusat Suriah di bawah pemerintahan Al-Sharaa. "Peluang terbesar bagi Kurdi saat ini adalah fase transisi menuju negara yang bersatu," tulis Barrack, yang secara implisit memberi sinyal bahwa kebijakan "habis manis sepah dibuang" kini sedang diterapkan kepada kelompok Kurdi tersebut.

Read Entire Article
Politics | | | |