Sekolah Dikelilingi Perairan, Perahu Jadi Transportasi Andalan Siswa SDN Pantai Bahagia 02

15 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Bagi sebagian siswa, perjalanan menuju sekolah mungkin hanya membutuhkan kendaraan atau berjalan kaki di jalan yang sudah tersedia. Namun, bagi anak-anak yang tinggal di Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi, perahu menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk pergi dan pulang sekolah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dilihat langsung mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) selama menjalankan program BSI Explore 2026 di Desa Pantai Bahagia.

Selama berada di wilayah tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan program pendidikan, juga melihat bagaimana kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk akses anak-anak menuju sekolah.

Sinta, mentor Tim 13 BSI Explore 2026 Desa Pantai Bahagia, mengatakan kondisi infrastruktur di wilayah ini berbeda jauh dengan kawasan perkotaan. Sejumlah akses jalan masih sulit dilalui kendaraan, sehingga masyarakat lebih banyak mengandalkan perahu untuk melakukan mobilitas.

"Jalanannya itu masih agak sulit dimasuki mobil, bahkan motor. Selain itu, di sini orang-orang lebih banyak mengendarai perahu karena jalanannya masih kurang bagus," ujar Sinta dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8/2026).

Kondisi ini juga dirasakan anak-anak yang bersekolah di SDN Pantai Bahagia 02. Sinta mengatakan siswa yang tinggal di Muara Bendera menggunakan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah karena wilayah tempat tinggal mereka sebagian besar dikelilingi perairan.

"Yang mirisnya itu untuk anak-anak di SDN Pantai Bahagia 02, di sini masih menggunakan perahu setiap berangkat dan pulang," katanya.

Menurut Sinta, terdapat dua waktu penjemputan siswa dari sekolah. Siswa kelas 1 dan 2 dijemput sekitar pukul 10.00 WIB, sedangkan siswa kelas 3 hingga kelas 6 mendapatkan penjemputan sekitar pukul 12.30 WIB.

Muara Bendera masih merupakan bagian dari Desa Pantai Bahagia. Namun, karakter geografis wilayah tersebut membuat akses darat menjadi sangat terbatas.

Sinta menyebut kawasan tersebut sudah didominasi perairan, sementara sebagian rumah warga berbentuk rumah panggung dan masyarakat memiliki perahu untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

"Di sana itu jalanannya sudah benar-benar terputus, enggak ada jalanan tanah sama sekali. Di sana sudah full dengan perairan, rumahnya pun rumah panggung. Jadi masyarakatnya juga masing-masing punya perahu," tuturnya.

Ia menambahkan, sekitar 80 persen anak-anak yang tinggal di Muara Bendera bersekolah di SDN Pantai Bahagia 02. Karena itu, keberadaan perahu penjemputan menjadi sangat penting bagi mobilitas siswa dari wilayah tersebut.

Sinta menjelaskan, sebelumnya pemerintah sempat memberikan perahu untuk mendukung akses anak-anak. Namun, setelah terdapat kendala penggunaan perahu tersebut, pemerintah desa kemudian berinisiatif menyediakan perahu melalui kesepakatan dan gotong royong masyarakat.

"Ini sebuah kesepakatan, 'ini enggak apa-apa deh kita bikin perahu gotong royong' untuk anak-anak. Perahu ini dikhususkan untuk anak-anak yang tinggal di Muara Bendera," jelasnya.

Di tingkat desa, mahasiswa membawa program penanaman mangrove dan edukasi mengenai ekosistem pesisir. Program tersebut dipilih karena Pantai Bahagia menghadapi persoalan lingkungan seperti abrasi dan banjir rob.

"Di sini kan memang di pesisir, harus dijaga tempat-tempatnya dari abrasi. Permasalahannya itu abrasi dan banjir rob. Jadi masih sangat kurang terhadap penanaman mangrovenya, sehingga kami memutuskan untuk membawakan program penanaman mangrove dan pengenalan edukasi mangrove," kata Sinta.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan informasi dan pendampingan dari Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi. Sinta mengatakan kawasan tersebut juga telah memiliki budidaya bibit mangrove yang dapat mendukung pelaksanaan program.

Di balik persoalan akses dan infrastruktur, Sinta melihat Pantai Bahagia memiliki potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Keberadaan kawasan mangrove dan lutung menjadi dua hal yang menurutnya dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis lingkungan.

"Kalau seandainya jalanan di sini memang bagus, ini juga bisa menjadi suatu tempat wisata yang bagus, terutama di mangrovenya. Ada lutung di mangrove, jadi bisa menjadi suatu objek wisata," ungkapnya.

BSI Explore 2026 akhirnya membawa mahasiswa melihat Pantai Bahagia dari sisi lebih luas. Di satu sisi ada anak-anak yang harus menyeberangi perairan untuk bersekolah, di sisi lain terdapat mangrove dan habitat lutung yang menyimpan potensi lingkungan dan wisata.

Read Entire Article
Politics | | | |