Pemkab Bogor Rancang Enam Stasiun Baru di Jalur KA Parung Panjang-Jasinga

2 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, KABUPATEN BOGOR, – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat, merancang pembangunan enam stasiun baru dalam rencana pengembangan jalur kereta api Parung Panjang-Jasinga. Langkah ini diambil untuk memperkuat konektivitas dan membuka akses wilayah Bogor Barat melalui transportasi massal berbasis rel.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika di Cibinong, Minggu, mengatakan bahwa pengembangan ini merupakan arahan langsung Bupati Bogor Rudy Susmanto. Tujuannya adalah membangun sistem transportasi yang terintegrasi dan menjangkau berbagai wilayah, tidak hanya terfokus di kawasan Puncak.

“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antar-wilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.

Kajian Awal dan Rekomendasi Trase

Berdasarkan kajian awal Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025, trase Parung Panjang-Jasinga lebih direkomendasikan untuk dikembangkan. Keputusan ini diambil setelah melalui penilaian terhadap 15 kriteria dari aspek teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam kajian tersebut, jalur Parung Panjang-Jasinga dirancang sepanjang sekitar 27,26 kilometer menggunakan konstruksi at grade atau di permukaan dengan jenis rel heavy rail. Jalur ini direncanakan memiliki enam stasiun baru dan terhubung dengan satu stasiun eksisting di Parung Panjang.

Kereta pada jalur itu diproyeksikan memiliki waktu tempuh sekitar 24 menit serta didukung enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan. Biaya operasional kereta dalam kajian awal diperkirakan berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per penumpang.

Dorong Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Ajat menjelaskan, pengembangan transportasi di wilayah barat tidak hanya ditujukan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Lebih dari itu, proyek ini diharapkan membuka akses serta mendorong munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.

Selain Parung Panjang-Jasinga, dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor juga memuat alternatif trase Tenjo-Jasinga. Trase Tenjo-Jasinga dirancang sepanjang 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun dan melintasi Kecamatan Tenjo hingga Jasinga.

Sementara itu, alternatif Parung Panjang-Jasinga sepanjang sekitar 26,5 kilometer dalam dokumen tersebut dirancang melintasi Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga, dan Tenjo dengan enam titik stasiun. Pengembangan jalur kereta itu diarahkan untuk melayani pergerakan komuter sekaligus menjadi pengumpan penumpang menuju jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek melalui Stasiun Parung Panjang.

Rencana tersebut juga sejalan dengan pengembangan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan dan kawasan berbasis transit oriented development (TOD), sedangkan Tenjo diarahkan untuk pengembangan stasiun barang dan penguatan konektivitas jaringan antarkota serta perkotaan.

Tahapan Pengembangan Proyek

Ajat menegaskan bahwa rencana pembangunan transportasi tersebut masih membutuhkan kajian komprehensif. Kajian ini meliputi trase, kapasitas, keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antar-moda, hingga kelayakan investasi.

Dokumen Dishub Kabupaten Bogor membagi pengembangannya menjadi empat tahapan. Dimulai dari pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif, dan konsultasi publik. Tahapan berikutnya meliputi studi kelayakan komprehensif, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), desain awal, penyusunan detail engineering design (DED), pembebasan lahan, serta penentuan skema pendanaan.

Setelah tahapan tersebut rampung, proyek dapat dilanjutkan dengan konstruksi fisik, pengadaan sarana kereta, uji coba terbatas hingga operasional penuh. “Semua harus dikaji secara komprehensif. Arahan bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Politics | | | |