REPUBLIKA.CO.ID,KABUL -- Sebuah restoran milik Muslim Tionghoa di Kabul, Afghanistan, hancur akibat serangan bom yang diklaim dilakukan kelompok teroris ISIS. Insiden ini menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang warga Muslim asal Tiongkok, serta melukai sejumlah lainnya.
Restoran tersebut sebelumnya dikenal sebagai simbol upaya membangun kerja sama ekonomi dan perdagangan halal antara Muslim Tionghoa dan masyarakat Afghanistan. Namun, sekitar pukul 15.00 waktu setempat pada Senin, suasana damai itu berubah menjadi duka setelah ledakan mengguncang lokasi usaha tersebut.
Seorang saksi mata, Ehsanullah, mengatakan ledakan terjadi secara tiba-tiba saat aktivitas restoran tengah berlangsung. Saat itu, ia hendak mengantarkan kebab kepada pelanggannya.
"Saya bergegas masuk ke dalam restoran, khawatir akan ada ledakan kedua. Ketika saya keluar, saya melihat orang-orang biasa tergeletak di jalan, mereka yang hanya lewat. Para pekerja di dalam restoran Cina itu terluka parah, tergeletak tak berdaya di tanah,” ujarnya dilansir Tolonews, Kamis (22/1/2026).
Restoran tersebut didirikan sekitar satu setengah tahun lalu oleh Al-Majid dan istrinya, pasangan Muslim asal Tiongkok, bersama mitra bisnis dari Afghanistan. Kehadiran mereka diterima baik oleh warga setempat karena dianggap membuka lapangan kerja dan memperkuat hubungan dagang lintas negara.
Saksi lainnya, Mohammadullah, menyebut pemilik restoran dikenal sebagai pribadi yang baik dan religius.
“Mereka Muslim Tionghoa yang biasa shalat Jumat bersama kami. Mereka datang untuk berdagang secara damai. Kami menyambut siapa pun yang ingin berbisnis di sini agar ekonomi dan lapangan kerja meningkat,” katanya.
Juru bicara Komando Keamanan Kabul, Khalid Zadran mengonfirmasi bahwa tujuh orang meninggal dunia dalam serangan tersebut. Salah satu korban adalah warga Muslim Tiongkok bernama Ayub. Beberapa orang lainnya mengalami luka-luka.
"Ledakan terjadi di dekat dapur. Investigasi telah diluncurkan untuk menentukan penyebab ledakan, tetapi belum selesai," ucap Zadran.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Abdul Mateen Qani menegaskan, pemerintah terus menyelidiki kasus ini dan berupaya menjamin keamanan warga, termasuk warga negara asing.
“Kami meyakinkan seluruh warga negara, terutama warga negara asing, misi diplomatik, dan semua proyek politik dan ekonomi di seluruh negeri, bahwa keamanan nasional terjamin, dan kami akan meningkatkan perhatian kami terhadap hal ini,” jelasnya.
Pada Selasa (20/1/2026) malam, kelompok ISIS secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menambah daftar panjang aksi teror yang menyasar warga sipil dan simbol kerja sama lintas bangsa di Afghanistan.

2 hours ago
3















































