REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) belum lama ini mengungkap kota rudal bawah tanah sambil memperkenalkan rudal balistik Khorramshahr-4, yang diklaim paling canggih di antara koleksi rudal-rudal Iran. Dengan jarak jangkuan hingga 2.000 kilometer dan berhulu ledak 1.500 kilogram (kg), Khorramshahr-4 dirancang untuk mampu berpenetrasi menembus sistem pertahanan udara tercanggih manapun.
Dengan kecepatan hipersonik Mach 16 diluar atmosfer dan Mach 8 saat kembali masuk ke atmosfer, membuatnya sulit untuk dilacak oleh musuh. Teknologi manuver (MaRV) dan sistem pemandu arah membuatnya sangat akurat menghantam target, dilengkapi dengan sistem penghalau radar rendah dan elektronik lainnya.
Saat pertama kali dirilis pada 25 Juni 2023, panjang Khorramshahr-4 terukur 13 meter, berdiameter 1,5 dengan berat sekitar 30 ton. Dengan dimensi itu, Khorramshahr-4 menjadi yang paling berat di inventori rudal balistik Iran dengan kemampuan membawa bom di atas berat 1 ton.
Khorramshahr-4 bermesin canggih Arvand engine, menggunakan bahan bakar cair hypergolic, yang membuatnya bisa digunakan dalam operasi militer kompleks namun dipersiapkan dalam tempo singkat. Sebuah inovasi kunci menempatkan mesin ditempatkan dalam tangki bahan bakar, memperbaiki stabilitas struktur dan meningkatkan performa dan akurasi balistiknya.
Program rudal Iran, dilaporkan Teheran Times, yang dikembangkan secara domestik di tengah puluhan tahun sanksi internasional, telah berkembang menjadi salah satu sistem pertahanan penting negara. Sejak diluncurkan pertama kalinya pada 2017 hingga generasi keempat, Khorramshahr-4 merefleksikan sebuah warisan dari inovasi berkelanjutan rudal-rudal Iran.
Waktu peluncuran Khorramshahr-4 jelang perundingan nuklir dengan AS di Oman menjadi simbol kekuatan diplomasi Iran. Kepala Biro Politik IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, menegaskan bahwa Khorramshahr-4 mengirim sebuah pesan kepada Washington bahwa kekuatan militer Iran adalah pilar identitas negara yang tak bisa dinegosiasikan.
"AS telah kembali ke negosiasi dengan ramah," kata Javani dalam wawancara kepada Al Mayadeen, Kamis (6/2/2026).
Pada Jumat (7/2/2026), Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menggelar perundingan nuklir di Oman. Sebelumnya, pada Januari, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran. Trump berharap agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen untuk sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir.
Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan sebelumnya.

1 hour ago
3















































