Terungkapnya Gurita Jaringan Yahudi-Israel di Dokumen Epstein

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Indikasi bahwa predator seksual Jeffrey Epstein selama bekerja untuk kepentingan Israel terus terkuak lewat arsip yang diungkap Departemen Kehakiman AS. Pemerintahan berbagai negara ia rayu untuk memuluskan agenda-agenda Israel.

Dalam salah satu emailnya, Epstein mengatakan kepada seorang pengusaha Qatar bahwa Doha perlu "bernyanyi dan menari" menuruti Israel untuk dapat dukungan Presiden AS Donald Trump selama blokade terhadap negara kecil Teluk tersebut. Qatar sempat dikucilkan negara Arab pada 2017 dengan tudingan melindungi kelompok Ikhwanul Muslimin. Pengucilan itu dicabut pada 2021.

Email tersebut, yang merupakan bagian dari serangkaian dokumen Departemen Kehakiman AS yang dirilis pada akhir pekan, menunjukkan Epstein mengambil kesempatan dalam keretakan yang terjadi di Teluk antara Qatar di satu sisi dan UEA serta Arab Saudi di sisi lain. 

Middle East Monitor menuliskan, Epstein mengatakan kepada seorang pria yang diidentifikasi sebagai “Jabor Y” bahwa Qatar tampaknya bisa bangkit dari keterpurukan jika mampu menormalisasi hubungan dengan Israel. "Jika masyarakat mengizinkan negara Anda mengakui Israel, akan menarik untuk dibahas. Jika tidak, mungkin pertimbangkan untuk memasukkan 1 miliar ke dalam dana yang bermanfaat bagi para korban aksi teroris. Mintalah anggota GCC lainnya untuk mencocokkannya," tulis Epstein pada 9 Juli 2017.

Di email lainnya, Jabor Y muncul dengan nama Jabor Yousef Jassim Al Thani. Dia adalah seorang pengusaha Qatar dan anggota keluarga kerajaan. Dalam dokumen tahun 2016, ia tampak meminta izin agar pesawat Epstein mendarat di Doha.

Epstein berpendapat bahwa masalah Qatar bisa hilang jika mereka berhenti “melawan” dan menjalin hubungan lebih dekat dengan Israel. Dia mengatakan Qatar perlu mengikuti contoh India, yang telah menjadi mitra dekat Israel. "Perdana Menteri India, Modi, menerima nasihat. Dan menari dan bernyanyi di Israel demi kepentingan presiden AS. Mereka bertemu beberapa minggu yang lalu.. BERHASIL.!" Epstein menulis kepada Jabar.

Epstein, seorang keturunan Yahudi dan juga warga ganda AS-Israel memiliki hubungan dengan jaringan intelijen dan pedagang senjata sejak tahun 1980-an. Dia sangat dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.

Epstein pada 2019 mati secara misterius di sel penjara Kota New York, yang dianggap sebagai bunuh diri. Tetapi dia mengikuti blokade Qatar dengan cermat dan terlibat dalam diplomasi jalur II dengan Barak hingga menjelang kematiannya. 

Pada 30 Juni 2017, ia menyarankan agar invasi ke Qatar dicegah karena militer Turki telah mengerahkan kekuatan ke negara Teluk tersebut. Ini tertulis dalam emailnya kepada seorang pria bernama Anas al-Rasheed, yang tampaknya adalah seorang profesor Kuwait yang juga menjabat sebagai menteri kabinet.

Pada Juli 2017, Epstein menyatakan dirinya sebagai mediator yang dapat memperbaiki masalah Qatar. "Saya mengingat tujuan utama kami. Dalam hal ini saya tahu bahwa HBJ ingin duduk bersama MBS secara langsung. JIKA orang Anda bisa mengaturnya, saya pikir itu akan menjadi langkah yang baik," tulis Epstein kepada Rasheed pada 4 Juli. 

MBS awam diketahui sebagai singkatan bagi Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. HBJ adalah singkatan dari Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, yang menjabat sebagai perdana menteri di negara Teluk tersebut dari tahun 2007 hingga 2013. Epstein pada saat itu mengklaim bahwa pemimpin tersebut adalah satu-satunya “orang dewasa” di negara Teluk tersebut. 

Meskipun tidak jelas apakah pertemuan antara mantan perdana menteri Qatar dan putra mahkota Saudi itu benar-benar terjadi, Epstein berhasil menjadi perantara pertemuan antara Barak dan rekannya dari Qatar.

Read Entire Article
Politics | | | |