Tujuh Kelurahan di Depok Kembangkan Pengelolaan Sampah Berbasis Maggot

8 hours ago 19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengelolaan sampah organik berbasis komunitas mulai menunjukkan hasil di Kota Depok, Jawa Barat. Hingga Juni 2026, program budidaya maggot di tujuh kelurahan telah mengelola lebih dari 100 ton sampah organik rumah tangga, menghasilkan 9,7 ton maggot Black Soldier Fly (BSF), serta berkontribusi mengurangi emisi karbon hingga 325 ton CO2e.

Program tersebut melibatkan lebih dari 60 kepala keluarga di Kelurahan Jatijajar, Sukmajaya, Depok Jaya, Limo, Meruyung, Tanah Baru, dan Jatimulya. Berawal dari proyek percontohan pada 2024, pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot berkembang menjadi model yang direplikasi di sejumlah wilayah di Kota Depok.

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk bersama Biomagg dan Pemerintah Kota Depok memperluas program tersebut melalui pembangunan rumah maggot di Kelurahan Depok Jaya. Sebelumnya, fasilitas serupa telah tersedia di Kelurahan Jatijajar dan Sukmajaya sebagai pusat budidaya dan edukasi pengelolaan sampah organik.

Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood Dian Astriana mengatakan, pembangunan rumah maggot merupakan kelanjutan dari program pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan sejak 2024.

“Rumah Maggot Garudafood dibentuk sebagai program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui pendekatan Creating Shared Value (CSV), dengan menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan,” ujar Dian dalam siaran pers, Rabu (22/7/2026).

Selain peresmian rumah maggot, kegiatan juga diisi dengan pelatihan budidaya maggot BSF dan berbagi pengalaman antarkelompok binaan untuk memperkuat kapasitas kelompok baru dalam mengelola budidaya secara mandiri.

Dian mengatakan, pihaknya akan memperluas program Kampung Wirausaha Maggot ke wilayah lain. Perusahaan juga menyiapkan pengembangan ekosistem maggot melalui budidaya serta produk turunan, seperti pakan ternak dan pupuk organik.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan dari pemerintah kelurahan dan kecamatan, pendampingan teknis dari Biomagg selaku mitra pendamping, serta yang terpenting antusiasme warga, adalah kunci utama keberlanjutan program ini,” katanya.

Ketua kelompok budidaya maggot Depok Jaya Hadijah mengatakan, kelompoknya belajar dari kelompok binaan di Kelurahan Limo sebelum memperoleh pendampingan dari Biomagg dan Garudafood.

“Awalnya kami menimba ilmu dari kelompok binaan Kelurahan Limo, hingga kemudian dikenalkan dengan Biomagg dan mendapat dukungan untuk mendirikan rumah maggot ini. Panen perdana kami berhasil mencatatkan 20 kg maggot,” katanya.

Model pengelolaan sampah berbasis komunitas tersebut menunjukkan pendekatan budidaya maggot tidak hanya berkontribusi mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil budidaya dan produk turunannya.

Read Entire Article
Politics | | | |