Waspada Modus Penipuan Logistik: Jangan Panik, Cek Dulu Sebelum Klik

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah pesatnya digitalisasi ekonomi, ancaman penipuan online kini menjelma menjadi epidemi yang menyerang rasa aman masyarakat di ruang siber. Masyarakat sering kali terjebak menjadi korban karena kepiawaian pelaku dalam memanipulasi celah psikologis, seperti rasa panik dan urgensi, yang membuat nalar kritis sering kali lumpuh saat menerima pesan palsu.

Fenomena ini kian diperparah oleh kurangnya literasi digital di tengah gempuran teknologi yang terus berkembang, menjadikan data pribadi dan aset finansial konsumen sebagai sasaran empuk dalam ekosistem transaksi yang serba cepat.

Tantangan serius ini tercermin dalam data survei Diginex bersama Inventure dan ivosights tahun 2025, yang mengungkap bahwa 26,5% masyarakat Indonesia telah jatuh ke dalam perangkap penipuan online. Bahkan, laporan Online Scams in Indonesia dari Kaspersky Lab menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah dengan kerawanan penipuan digital tertinggi di kawasan ASEAN pada awal tahun 2026 ini. Kondisi darurat ini mendorong para pelaku industri logistik untuk mengambil langkah preventif guna membentengi konsumen mereka dari kerugian yang lebih besar.

Menanggapi hal tersebut, J&T Cargo kini memperkuat edukasi publik melalui kampanye strategis bertajuk “Jangan Ketipu, Cek Dulu”. Inisiatif ini dirancang khusus untuk membantu masyarakat mengenali modus penipuan logistik yang kian canggih, mulai dari informasi status paket palsu, tawaran asuransi tambahan, hingga pemberitahuan pengembalian dana (refund) yang menyesatkan. Pelaku sering kali memanfaatkan kepanikan pelanggan dengan mengirimkan pesan instan berisi tautan berbahaya atau resi editan yang terlihat sangat mirip dengan sistem resmi perusahaan.

Berdasarkan laporan di Hotline Customer Service Center, salah satu modus yang paling marak di awal 2026 adalah penipuan refund melalui QRIS. Pelaku biasanya menghubungi pelanggan dengan dalih adanya kendala pengiriman, lalu menawarkan pengembalian dana. Namun, saat pelanggan memindai QRIS yang diberikan, dana justru terpotong dari rekening korban dan mengalir ke kantong penipu. Eko Erwanto, SPV Hotline Customer Service Center J&T Cargo, menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah memproses pengembalian dana melalui QRIS, rekening pribadi, maupun tautan pesan instan.

Selain modus QRIS, praktik penipuan lain yang patut diwaspadai mencakup penggunaan resi fisik hasil editan, permintaan uang jaminan menggunakan surat berkop perusahaan palsu, hingga munculnya situs web pelacakan ilegal. Pola yang digunakan hampir selalu sama: menekan korban agar segera melakukan pembayaran atau memberikan data sensitif di bawah ancaman paket akan ditahan atau hangus.

Sebagai bagian dari komitmen melindungi konsumen, J&T Cargo melalui kampanye ini memberikan empat langkah pencegahan utama:

Gunakan Situs Resmi: Hanya akses jtcargo.id dan hindari tautan dengan domain asing yang mencurigakan.

Cek Resi Mandiri: Lakukan pelacakan melalui sistem resmi; resi palsu dipastikan tidak akan terdaftar.

Abaikan Permintaan Dana: Abaikan segala bentuk permintaan refund melalui QRIS atau pesan dari nomor pribadi.

Verifikasi ke Layanan Pelanggan: Jika ragu, segera hubungi saluran resmi sebelum mengambil tindakan apa pun.

“Jangan panik dan terburu-buru merespons. Luangkan waktu sejenak untuk melakukan verifikasi. Langkah sederhana ini adalah kunci untuk mencegah kerugian finansial yang jauh lebih besar,” tambah Eko. Untuk memudahkan proses verifikasi, pelanggan dapat langsung menghubungi Customer Care di nomor 021 8066 1666 atau WhatsApp di 0811 1666 099 guna memastikan keabsahan informasi yang diterima.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |