Amerika Ancam Serang Iran, Garda Revolusi Islam: 50 Ribu Tentara Anda Dalam Jangkauan Kami

1 day ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Seorang komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) di kawasan itu berada di "rumah kaca" dan harus menghindari "saling melempar batu."

Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Komandan Divisi Kedirgantaraan IRGC, menyampaikan pernyataan tersebut di sela-sela upacara perayaan Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan, di Teheran pada  Senin (31/3/2025).

"Amerika memiliki 10 pangkalan [militer] di wilayah ini, terutama di sekitar Iran, dan 50 ribu tentara yang berbasis di sana dalam jangkauan kami," kata Hajizadeh.

"Ini berarti mereka duduk di rumah kaca, dan ketika seseorang duduk di rumah kaca, dia tidak akan melempari orang lain dengan batu."

Komentar komandan IRGC ini muncul setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengebom Iran jika negara itu menolak untuk mencapai "kesepakatan baru".

Pada Sabtu (29/3/2025), Trump mengatakan bahwa Iran akan dibom jika tidak membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Dalam tanggapan pertamanya terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump untuk "mengebom" Iran, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa setiap "agresi eksternal" akan ditanggapi dengan "pembalasan yang tegas."

Berbicara di hadapan para jamaah saat shalat Idul Fitri di Teheran pada hari Senin, Khamenei mengatakan bahwa agresi eksternal tidak mungkin terjadi, namun negara ini siap untuk menghadapi segala kemungkinan, kantor berita Anadolu melaporkan, dikutip Republika.co.id, Selasa (1/4/2025).

Dia menyatakan dan jika mereka berpikir untuk menghasut di dalam negara kita-seperti yang telah mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya-rakyat Iran sendiri yang akan menanggapinya.

Pernyataannya muncul sehari setelah Trump mengancam Iran dengan pengeboman dan tarif sekunder jika Iran gagal mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atas program nuklirnya.

Iran telah menolak negosiasi langsung dengan pemerintahan Trump, namun tetap membuka jalur diplomatik untuk membahas isu-isu nuklir yang masih diperdebatkan melalui negosiasi tidak langsung.

BACA JUGA: Konflik Internal Israel Semakin Tajam, Saling Bongkar Aib Antara Ben-Gvir Versus Shin Bet

Pemerintah Iran menanggapi surat Trump melalui Oman minggu lalu, dengan menyatakan keengganannya untuk terlibat dalam negosiasi langsung di bawah ancaman militer, seperti yang dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada hari Kamis.

Surat Trump dilaporkan mendesak Iran untuk menegosiasikan kesepakatan nuklir baru untuk menggantikan perjanjian 2015, yang ditunda setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut pada Mei 2018 selama masa kepresidenan pertama Trump.

Read Entire Article
Politics | | | |