Ancaman Perang Dunia Ketiga, di Mana Bakal Dimulai?

10 hours ago 7

Oleh Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Meningkatnya ketegangan global sepanjang setahun terakhir menunjukkan rapuhnya tatanan internasional pasca-Perang Dingin. Sejumlah pengamat, politikus, dan pegiat hubungan internasional menilai dunia kini memasuki fase paling berbahaya sejak 1945. 

Majalah The New Yorker menyebut pemerintahan Donald Trump sebagai penggerak “proyek imperialis baru” yang ditandai unilateralisme agresif. Dari rencana penguasaan Greenland hingga penggunaan kekuatan di Amerika Latin, pendekatan ini dinilai menciptakan preseden berbahaya yang ditiru kekuatan besar lain, terutama Rusia dan China. Akibatnya, risiko konflik global meningkat tajam.

The Telegraph bahkan menyebut Perang Dunia Ketiga bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan proses yang bisa saja telah dimulai secara terfragmentasi. Dari Taiwan hingga Baltik, garis api global semakin jelas terbentuk. Di mana saja titik api yang berpotensi memicu perang besar yang ditakutkan tersebut?

Bara di Timur Tengah

Timur Tengah adalah salah satu titik api utama. Ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran, di tengah gelombang protes domestik di negeri itu, memicu eskalasi retorika dan kesiapan militer. Teheran menuduh Washington secara sengaja meningkatkan ketegangan kawasan.

Dua tahun genosida di Gaza yang dilakukan Israel jadi pemicu memanasnya situasi belakangan. Iran agaknya menjadi sasaran negara Zionis dan AS karena merupakan satu-satunya negara formal di kawasan yang melakukan tindakan nyata atas aksi Israel yang sejauh ini telah membunuh 71 ribu warga Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan tersebut. Kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon juga melancarkan serangan mencoba menekan Israel menghentikan agresi di Gaza. 

Tentara Israel menghancurkan seluruh blok pemukiman di kamp Jabalia, sebelah utara Jalur Gaza, akhir Agustus 2025.

Dalam eskalasi terkini, ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan dan kapal Israel serta Amerika di kawasan. Ini mendesak Israel dan sejumlah negara Arab mengiba agar AS menunda menyerang Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad (18/1/2025) kembali mengeluarkan peringatan bahwa serangan Amerika Serikat ke negaranya akan memprovokasi sebuah respons keras. Jika serangan itu sampai mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, hal tersebut bakal dilihat "sama dengan perang berskala besar terhadap bangsa Iran."

Israel sendiri berada dalam status siaga tinggi. Militer Zionis disebut siap memanfaatkan serangan AS untuk menghantam target-target Iran yang selama ini masuk daftar sasaran mereka. Para analis menilai eskalasi ini tidak lagi tampak sebagai kecelakaan, melainkan arah kebijakan.

Pada Juni tahun lalu, dunia nyaris menyaksikan perang regional besar yang melibatkan AS dan sekutu Barat di satu sisi, serta Rusia dan China di sisi lain. Meski serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran sempat meredakan ketegangan, ancaman nuklir Teheran tetap “meningkat”, kata Paul Ingram, afiliasi penelitian untuk Pusat Risiko Eksistensial di Universitas Cambridge.

Korps Pengawal Revolusi Islam mengumumkan bahwa mereka telah berhasil melancarkan serangan rudal terhadap salah satu kantor pusat intelijen israel, Mossad di Tel Aviv.

Klaim Trump bahwa AS telah menghilangkan kemampuan nuklir rezim tersebut di masa mendatang dengan cepat dibantah sendiri oleh Pentagon. Karena Iran masih menyimpan 440 kg uranium yang telah diperkaya hal ini menambah situasi berbahaya di mana kapasitas mereka sedikit terdegradasi, namun insentif bagi Iran untuk memproduksi nuklir sangat besar di tengah ancaman AS dan Israel

Media-media Barat melihat melemahnya Hizbullah di Lebanon, jatuhnya rezim Assad di Suriah dan ancaman pembubaran Hamas oleh AS-Israel berarti Iran telah kehilangan sebagian besar pengaruh proksinya di wilayah tersebut. 

Dengan rezim di Teheran yang nampaknya bertekad untuk berjuang sampai akhir, serangan sembrono dari AS dan sekutu-sekutunya berpotensi menjadi pemicu konflik global pertama.

Komplikasi di Eropa...

Read Entire Article
Politics | | | |