Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai membawa sentimen positif bagi perekonomian global. Namun, dampaknya terhadap penguatan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik diperkirakan tidak akan terjadi secara instan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menekan harga energi dan mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan global.
"Secara garis besar, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran ini merupakan sinyal yang sangat baik bagi perekonomian global, termasuk Indonesia," ujar Dipo saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Dipo, pasar global merespons positif perkembangan negosiasi kedua negara. Salah satu indikatornya terlihat dari mulai turunnya harga minyak dunia setelah muncul sinyal kesepakatan damai.
"Pasar langsung merespons dengan positif yang tercermin dari mulai turunnya harga minyak dunia. Kemarin malam saya cek, harga Brent berada di kisaran 80 dolar AS per barel," kata Dipo.
Meski demikian, Dipo mengingatkan sentimen positif tersebut belum tentu langsung mendorong penguatan rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut dia, pasar masih membutuhkan waktu untuk melihat dampak nyata dari normalisasi hubungan kedua negara terhadap perekonomian global.
"Kalau untuk IHSG dan rupiah, belum tentu langsung membaik. Memang ada penurunan risiko atau risk-off, tetapi akan perlu waktu agar jalur perdagangan kembali normal dan juga perlu waktu agar country risk Indonesia turun," lanjut Dipo.
Dipo menilai pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal. Sejumlah faktor domestik juga masih menjadi perhatian investor dalam menilai prospek aset keuangan Indonesia.
"Karena sampai saat ini, mata uang Indonesia melemah ketika mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan baht Thailand justru menguat. Artinya, pelemahan rupiah tidak semata-mata karena faktor global saja," ujar Dipo.
Menurut dia, perbaikan sentimen global akibat meredanya konflik geopolitik memang dapat memberikan ruang bagi stabilisasi pasar keuangan. Namun, penguatan rupiah dalam jangka menengah tetap bergantung pada perbaikan faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi risiko Indonesia di mata investor.

4 hours ago
4















































