Petugas BBPOM Makassar melakukan pengawasan intensif di berbagai tempat strategis pasca-Lebaran. (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar melakukan pengawasan intensif di berbagai tempat strategis pasca-Lebaran. Ini dilakukan sebagai tindak lanjut surat edaran Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) untuk meningkatkan pengawasan guna mencegah peredaran makanan olahan yang tidak layak konsumsi pasca-Lebaran.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi peningkatan peredaran makanan yang tidak memenuhi standar keamanan dan mutu setelah periode perayaan Idulfitri. "Pengawasan itu dilakukan, baik di pasar tradisional, swalayan, toko atau warung yang menjual produk pangan atau olahan," kata Kepala BBPOM Makassar Hariani di Makassar, Kamis (3/4/2025).
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terhindar dari risiko pangan yang dapat membahayakan kesehatan seperti yang ditekankan Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar.
Pada periode setelah Lebaran sering kali menjadi momen kritis dalam pengawasan pangan, mengingat meningkatnya konsumsi makanan olahan yang mungkin telah melewati masa simpan atau tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Karena itu, BBOM di lapangan melakukan pengawasan menyikapi meningkatnya konsumsi makanan olahan masyarakat. Sebelum Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah juga dilakukan inspeksi di sejumlah titik yang menjadi pusat kuliner ataupun takjil, seperti di kawasan Jalan Mappanyukki dan Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar.
Pengawasan tersebut mencakup pemeriksaan kandungan bahan berbahaya, kelengkapan izin edar, serta kepatuhan terhadap ketentuan label pangan. Selain melakukan inspeksi langsung di lapangan, BBPOM juga mengedukasi masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih produk makanan yang dikonsumsi dengan selalu mengecek kemasan, label, izin edar, serta tanggal kedaluwarsa.
“Hal itu penting dilakukan untuk mewujudkan kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama, karena itu dengan adanya sosialisasi dan edukasi itu diharapkan masyarakat cerdas dan kritis dalam memilih produk yang akan dikonsumsi,” ujarnya.