Beban Utang G7 Memuncak: AS Tembus Rp707 Ribu Triliun, Suku Bunga Global Ancam Keuangan Dunia

11 hours ago 10

loading...

Perekonomian negara-negara maju (G7) menghadapi tekanan finansial paling sengit dalam beberapa dekade terakhir. Dipicu oleh lonjakan utang Amerika menembus rekor Rp707.154 triliun. Foto/Dok

JAKARTA - Perekonomian negara- negara maju ( G7 ) menghadapi tekanan finansial paling sengit dalam beberapa dekade terakhir. Dipicu oleh lonjakan utang nasional Amerika Serikat (AS) yang resmi menembus rekor USD40 triliun (atau setara Rp707.154 triliun dengan kurs Rp17.678 per USD), beban bunga pinjaman di seluruh blok G7 melesat tajam dan mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Kombinasi belanja pascapandemi, konflik geopolitik yang kembali memicu inflasi, hingga dampak perubahan iklim dan beban populasi yang menua memaksa pemerintah G7 terus menarik utang baru. Kondisi ini kian diperparah oleh aksi borong dana masif dari raksasa teknologi (AI hyperscalers), yang memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi ke level tertinggi dalam rentang satu hingga tiga dekade.

Imbal Hasil Obligasi Melonjak: Dari AS hingga Jepang

Pasar obligasi global menyaksikan fenomena langka di mana imbal hasil surat utang jangka panjang melonjak serentak di seluruh negara anggota G7. Pada Amerika Serikat (AS), Yield obligasi 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007, mendorong Departemen Keuangan meluncurkan intervensi pasar.

Baca Juga: Utang AS Meledak Tembus Rekor Rp707.154 Triliun, Sinyal Bahaya Ekonomi Global Berbunyi

Biaya pinjaman di Jepang juga mendekati level tertinggi dalam tiga dekade, bahkan Jerman dengan beban utang yang jauh lebih ringan juga melihat imbal hasilnya melonjak ke level tertinggi sejak 2011. Yield obligasi tenor 10 tahun mendekati ambang psikologis 3% untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1990-an, dipicu rencana belanja ekspansif Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Jerman sebagai negara dengan beban utang paling rendah di G7 pun mencatatkan peningkatan yield ke level tertinggi sejak 2011 akibat membengkaknya anggaran pertahanan. Beban utang yang berat membuat biaya pinjaman lebih tinggi berisiko merugikan standar hidup dengan membatasi pengeluaran dan menahan pertumbuhan.

Baca Juga: Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir

Utang pemerintah menjadi patokan bagi biaya pinjaman bagi perusahaan dan pinjaman lainnya, termasuk KPR rumah tangga. Dalam skenario terburuk, sebuah negara bisa menemui jalan buntu dan kesulitan membayar utangnya.

Read Entire Article
Politics | | | |