
Oleh: Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Al-Hayatu jihadun, hidup adalah perjuangan (jihad). Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Perjuangan yang sejati adalah perjuangan dalam dakwah Islam. Yang dimaksud pengorbanan adalah mengorbankan jiwa, waktu, kehidupan dan segala sesuatu demi mencapai tujuan. Pengorbanan dalam Islam tidaklah sia-sia, akan tetapi akan diganti dengan pahala yang tidak terhingga dan balasan yang indah.
Pengorbanan, baik moril maupun materil, diperlukan karena dakwah Islam pastilah akan menghadapi tantangan. Disamping menjadi keniscayaan, ada ‘rupiah’ yang mesti dibayar bagi siapa pun yang ingin meraih sesuatu yang sangat besar dan mahal.
Sabda Nabi SAW, “Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR Tirmidzi).
Di antara hal yang dapat memotivasi seorang dai untuk berkorban adalah keyakinan bahwa semua pengorbanan di jalan dakwah tidaklah sia-sia. Bahkan diberi balasan pahala sangat besar.
Allah SWT berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ [34]: 39). Dalam ayat yang lain, “Dan sungguh kalau gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih besar (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.” (QS Ali Imran [3]: 157).
Dakwah tidak dapat hidup tanpa perjuangan, dan perjuangan tidak akan ada tanpa pengorbanan, maka pengorbanan menjadi kewajiban. Bermalas-malasan dan kebakhilan dalam perjuangan (dakwah) akan mendapatkan dosa.
Hal ini ditegaskan dalam Alquran, “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya), dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS Muhammad [47]: 38).
Kader dakwah harus berpikir: “Apa yang bisa kuberikan untuk dakwah”, dan tidak berfikir “apa yang kudapatkan dari dakwah” dalam perjuangan dakwah ini. Karena ganti dan balasan dari Allah jauh lebih besar dan lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan di dunia ini.
Allah SWT berfirman, “Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.” (QS Ali Imran [3]: 157).
Oleh karena itu, Nabi SAW mengajari kita agar dalam perjuangan dakwah kita senantiasa berpikir untuk menunaikan kewajiban tanpa menuntut hak kepada manusia, akan tetapi meminta hak hanya kepada Allah, apabila merasa memiliki hak.
Nabi SAW bersabda, “Akan terjadi tindakan lebih mengutamakan orang lain (ketimbang kamu) dan akan terjadi perkara-perkara yang kamu ingkari”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi SAW menjawab; “Kalian tetap menunaikan kewajiban kalian dan meminta hak kalian kepada Allah.” (HR Bukhari).
Cara berpikir “Apa yang bisa kuberikan untuk dakwah” akan membuat seseorang terus bersemangat dalam berkorban, baik mendapatkan haknya di dunia atau pun tidak. Karena yang selalu dipikirkannya adalah bagaimana bisa berkorban sebanyak-banyaknya tanpa bertanya akan dapat apa di dunia.
Cara bepiikir seperti itu, sekaligus dapat menjaga soliditas spiritual dan soliditas barisan dakwah. Sedangkan cara berpikir “Saya dapat apa” akan membuat rapuh dan mudah memunculkan konflik kepentingan materi.
Semoga Allah SWT membimbing kita para dai agar senantiasa ikhlas dalam berkontribusi untuk dakwah sehingga meraih apa yang dijanjikan-Nya. Amin.

4 hours ago
6

















































