Ketika Kelembutan Menjadi Jalan untuk Menyatukan Hati

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat ketika kita merasa bahwa ketegasan adalah satu-satunya cara untuk membuat orang lain mengerti. Kita meninggikan suara karena merasa benar, mengeraskan sikap karena takut diremehkan, lalu kecewa ketika orang-orang justru perlahan menjauh. Padahal, hati manusia bukan batu yang dapat dibentuk dengan pukulan. Ia lebih menyerupai tanah: akan membuka dirinya kepada benih ketika disentuh dengan kelembutan, tetapi dapat mengeras ketika terus-menerus diinjak.

Allah mengajarkan rahasia besar tentang hubungan antarmanusia melalui pribadi Rasulullah SAW. Seorang pemimpin tidak selalu memenangkan hati dengan kekuasaan, seorang guru tidak selalu berhasil mendidik dengan hukuman, dan seorang ayah atau ibu tidak selalu mampu menjaga anak-anaknya dengan larangan. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam: rahmat yang menjelma menjadi kelembutan.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Fabimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan ghalīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik, fa‘fu ‘anhum wastaghfir lahum wa syāwirhum fil-amr, fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS Ali Imran: 159)

Kelembutan Itu Datang dari Rahmat Allah

Ayat ini dimulai dengan sesuatu yang sangat indah. Allah tidak mengatakan bahwa kelembutan Rasulullah SAW semata-mata lahir dari kecerdasan beliau dalam bergaul dengan manusia. Allah justru mengembalikannya kepada sumber yang lebih tinggi: rahmat-Nya.

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa kelapangan dada dan kelembutan Rasulullah SAW dalam memperlakukan para sahabat merupakan rahmat yang Allah tanamkan dalam hati beliau. Dengan kelembutan itulah Rasulullah mampu membimbing manusia dan menyampaikan agama tanpa membuat mereka merasa terusir.

Maknanya terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika seseorang mampu menahan kata-kata tajam meski sedang marah, mungkin di sana sedang bekerja rahmat Allah. Ketika seorang ibu memilih memeluk anaknya sebelum menasihatinya, ketika seorang guru menegur murid tanpa mempermalukannya, atau ketika seorang pemimpin mendengarkan bawahannya sebelum mengambil keputusan, kelembutan itu bukan kelemahan.

Ia justru pertanda adanya keluasan hati. Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menekankan bahwa Allah mengaruniakan kepada Rasulullah SAW sikap lemah lembut, santun, penuh kasih, dan akhlak yang baik sehingga para sahabat berkumpul di sekeliling beliau, mencintai beliau, lalu menaati beliau.

Di sinilah terdapat pelajaran besar: manusia sering kali terlebih dahulu membuka hatinya sebelum membuka telinganya. Nasihat yang benar sekalipun dapat kehilangan jalan masuk jika disampaikan melalui hati yang kasar.

Kebenaran adalah seperti air yang dibutuhkan kehidupan. Tetapi bila kita menuangkannya dengan cara yang melukai, orang mungkin menolak wadahnya sebelum sempat merasakan air di dalamnya.

Read Entire Article
Politics | | | |