Dari Sumatera hingga Eropa, Dampak Perubahan Iklim Kian Nyata dan Mematikan

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim dinilai telah memasuki fase nyata dan terukur, bukan lagi sekadar proyeksi ilmiah. Sejumlah pakar menilai bencana banjir dan longsor di Sumatera pada tahun lalu tidak hanya dipicu deforestasi, tetapi juga cuaca ekstrem yang berkaitan langsung dengan perubahan iklim.

Kenaikan muka air laut, pencairan gletser, serta pola cuaca yang semakin tidak menentu menjadi indikator kuat pemanasan global telah berlangsung. Pakar iklim menilai berbagai fenomena tersebut muncul lebih cepat dari perkiraan awal.

Pekan lalu, World Meteorological Organization mengumumkan 2025 sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, melanjutkan tren pemanasan sejak 2023 dan 2024.

Uni Eropa juga memperingatkan target Perjanjian Paris untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celsius semakin sulit tercapai.

“Ini mengkhawatirkan karena kami melihat peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan akan terjadi pada dekade ini,” kata Deputi Direktur layanan iklim Copernicus, Samantha Burgess, seperti dikutip dari The Independent, Selasa (20/1/2026).

Data Copernicus menunjukkan pada 2025 laut dunia menyerap panas lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak pencatatan dilakukan. “Perubahan iklim sudah terjadi, dan peristiwa yang diperkirakan muncul pada 2050 atau 2070 kini terjadi lebih awal,” kata Burgess.

Dampak tersebut tercermin dari meningkatnya bencana ekstrem di berbagai belahan dunia. Pada awal 2025, kebakaran hutan di California, Amerika Serikat, menewaskan 440 orang. Perusahaan reasuransi Swiss Re mencatat kerugian ekonomi akibat kebakaran tersebut mencapai 40 miliar dolar AS.

Aktivitas badai kategori tiga hingga lima di Atlantik Utara juga tercatat berada di atas rata-rata untuk pertama kalinya dalam dua dekade, termasuk badai Melissa yang disebut sebagai badai terkuat di Atlantik pada abad ini.

Pemanasan muka laut mempercepat intensifikasi badai, sehingga masyarakat pesisir, termasuk di Karibia, memiliki waktu yang semakin terbatas untuk evakuasi.

Sementara itu, lembaga riset Grantham Institute mencatat perubahan iklim meningkatkan angka kematian akibat gelombang panas di Eropa hingga tiga kali lipat. Pembakaran bahan bakar fosil memicu kenaikan suhu hingga empat derajat Celsius di sejumlah kota.

Diperkirakan 1.500 hingga 2.300 kematian akibat gelombang panas di Eropa berkaitan langsung dengan perubahan iklim. Data serupa di negara-negara Global South masih sangat terbatas.

Di Indonesia, banjir dan longsor di Sumatera menimbulkan 1.199 korban jiwa. Basis data bencana internasional EM-DAT mencatat 78 juta orang terdampak bencana terkait iklim sepanjang 2025.

Bencana-bencana tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 11.930 orang dan melukai lebih dari 35 ribu orang. Angka ini belum mencakup bencana non-iklim seperti gempa bumi atau letusan gunung api.

Juru bicara Federasi Palang Merah Internasional, Scott Craig, mengatakan perubahan iklim turut memicu krisis kemanusiaan yang kurang mendapat perhatian publik.

Ia mencontohkan kekeringan berkepanjangan di Kenya dan Somalia yang berdampak pada jutaan orang. “Krisis-krisis ini sulit menarik perhatian, tetapi tingkat urgensinya sangat tinggi,” kata Craig.

Swiss Re menilai kerugian ekonomi akibat bencana iklim belum mencapai puncaknya. Dalam periode 2015–2024, rata-rata kerugian global mencapai 267 miliar dolar AS per tahun.

Pada 2024, kerugian melonjak menjadi 327 miliar dolar AS, sementara pada 2025 tercatat 220 miliar dolar AS. Meski menurun, angka tersebut masih berada di atas rata-rata historis.

“Dari perspektif risiko, 2025 tetap signifikan meskipun tidak mencatat bencana ekstrem terbesar,” kata Kepala Bidang Bencana Swiss Re, Balz Grollimund.

Swiss Re mencatat upaya membangun ketahanan mulai menunjukkan hasil, dengan protection gap atau selisih kerugian yang tidak diasuransikan semakin mengecil. Pada 2025, sekitar 49 persen kerugian telah ditanggung asuransi.

Palang Merah Internasional memperingatkan krisis kemanusiaan akibat bencana iklim kini berada pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah. “Tantangannya bukan hanya merespons keadaan darurat, tetapi memperkuat komunitas agar mampu bertahan dalam jangka panjang,” kata Palang Merah.

Read Entire Article
Politics | | | |