Daya Beli Melemah dan Harga Mobil Tinggi, Pasar Mobil Bekas Kini Dominasi Otomotif Nasional

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, ​JAKARTA — Industri otomotif nasional tengah menghadapi tantangan serius dalam mencapai target penjualan mobil baru. Berdasarkan studi terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, ditemukan fakta bahwa masyarakat kini lebih cenderung memilih mobil bekas dibandingkan mobil baru akibat faktor keterjangkauan ekonomi.

​Riset tersebut mencatat penurunan signifikan pada penjualan mobil baru. Jika pada puncaknya di tahun 2013 penjualan mampu menembus 1,22 juta unit, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya sekitar 833.702 unit pada 2025, turun 6,3 persen dari angka 866 ribu unit pada tahun 2024. Padahal, kapasitas produksi otomotif di Indonesia sebenarnya mampu mencapai 2,35 juta unit per tahun.

​Hambatan harga dan pendapatan

Peneliti LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa hambatan utama lesunya pasar mobil baru adalah harga kendaraan yang melonjak melampaui pertumbuhan pendapatan masyarakat. Hal ini memicu penurunan daya beli yang nyata.

Sebagai ilustrasi, harga satu unit Toyota Avanza kini setara dengan 354 persen PDB per kapita Indonesia. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia, di mana harga kendaraan serupa hanya berada di angka 161 persen dari PDB per kapita mereka.

​"Kenaikan pendapatan masyarakat tidak mampu mengejar kenaikan harga mobil baru, sehingga harga dianggap tidak proporsional atau terlalu mahal," tulis laporan tersebut.

Kondisi ini mengubah peta persaingan pasar secara drastis. Pangsa pasar mobil baru yang pada 2013 masih mendominasi sebesar 70 persen, kini menyusut hingga tersisa 32 persen pada 2024. Sebaliknya, pangsa pasar mobil bekas justru melonjak dari 30 persen menjadi 68 persen pada periode yang sama.

​Dari 767 responden pemilik mobil bekas yang disurvei, sebanyak 42 persen menyatakan bahwa harga yang terjangkau menjadi pertimbangan finansial utama mereka. Faktor lain yang turut mendukung adalah pajak yang lebih rendah (23 persen) serta tingkat depresiasi harga yang lebih kecil dibandingkan mobil baru (10 persen).

​Tantangan target 2030

Pemerintah menargetkan penjualan mobil baru dapat mencapai 2 juta unit pada tahun 2030. Namun, proyeksi LPEM FEB UI menunjukkan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen, penjualan hanya diperkirakan menyentuh angka 1,32 juta unit.

​Untuk mencapai target tersebut, riset ini menyarankan pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk meningkatkan keterjangkauan mobil baru, termasuk mempersempit selisih harga dengan mobil bekas. Strategi ini dinilai krusial jika pemerintah ingin mempercepat adopsi kendaraan listrik (xEV) di masa depan, mengingat konsumen harus lebih dulu mampu beralih ke pasar mobil baru sebelum didorong ke arah teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Read Entire Article
Politics | | | |