Dedolarisasi Menguat, Putin: Saatnya ASEAN Beralih ke Mata Uang Nasional

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Rusia Vladimir Putin mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk memperluas penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral, sebuah langkah yang dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi di tengah perubahan lanskap geopolitik global.

Seruan tersebut disampaikan Putin setelah hari kedua KTT Rusia-ASEAN yang berlangsung di Kazan, Rusia, Kamis (19/6). Pertemuan itu dihadiri para pemimpin dan perwakilan negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.

Menurut Putin, Rusia dan negara-negara ASEAN sepakat untuk meningkatkan kualitas dan volume perdagangan serta memperluas investasi bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menilai penggunaan mata uang nasional dalam transaksi perdagangan perlu diperluas.

"Para peserta menyatakan dukungan mereka terhadap peningkatan kualitatif dan kuantitatif indikator perdagangan timbal balik, untuk memperbaiki strukturnya dan memperluas investasi bersama. Untuk melakukan ini, penting untuk beralih dari transaksi keuangan dalam dolar ke mata uang nasional," kata Putin, sebagaimana diberitakan Russia Today pada Kamis (18/6/2026).

Dalam forum tersebut, Putin juga menegaskan komitmen Rusia untuk terus memasok produk pangan dan energi ke negara-negara ASEAN. Selain itu, Moskow berencana meningkatkan ekspor barang bernilai tambah tinggi, termasuk pupuk, produk farmasi, dan komoditas industri lainnya.

Presiden Rusia itu juga menyerukan penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan penguatan konektivitas transportasi, baik melalui jalur maritim maupun jaringan kereta api. Menurutnya, peningkatan konektivitas menjadi faktor penting untuk memperdalam hubungan ekonomi Rusia dengan kawasan Asia Tenggara.

KTT Rusia-ASEAN kali ini berlangsung di tengah meningkatnya upaya sejumlah negara untuk melakukan diversifikasi sistem pembayaran internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia semakin aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan luar negeri sebagai respons terhadap sanksi Barat dan dominasi sistem keuangan berbasis dolar.

Selain isu perdagangan, Rusia dan ASEAN juga menyepakati dokumen konsep kerja sama energi yang akan menjadi peta jalan bagi kolaborasi kedua pihak di sektor tersebut. Kerja sama energi dipandang sebagai salah satu bidang strategis mengingat Rusia merupakan salah satu eksportir energi terbesar dunia, sementara ASEAN menjadi kawasan dengan pertumbuhan kebutuhan energi yang terus meningkat.

Pertemuan di Kazan juga menghasilkan rencana aksi Rusia-ASEAN periode 2026-2030. Dokumen tersebut mencakup penguatan kerja sama di bidang politik, keamanan, perdagangan, investasi, energi, transportasi, pertanian, ekonomi digital, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Read Entire Article
Politics | | | |