Dengan Puisi, Penunggang Unta di Arab Rayakan Tradisi Idul Fitri di Padang Pasir

1 day ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,TABUK -- Sebagian warga Arab Saudi merayakan Idul Fitri tahun ini dengan melantunkan puisi di padang pasir Tabuk yang luas. Perayaan ini mengusung semangat yang unik, perayaan gemilang yang diresapi aroma tanah kelahiran, kenangan para leluhur, serta tradisi yang mengakar kuat yang diwariskan dengan bangga dari generasi ke generasi.

Di sini, hamparan pasir membentang tak berujung, para penunggang unta yang dikenal sebagai hajjanah membentuk prosesi megah di atas unta mereka, memberi salam kepada penduduk setempat sambil melantunkan Al-Hijini, sebuah genre puisi yang menggugah hati dengan melodi kebanggaan, cinta, dan kesetiaan, yang melestarikan jiwa gurun.

Al-Hijini sangat erat kaitannya dengan budaya Badui, dan berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan emosi. (SPA)

Saudi Press Agency mendokumentasikan perayaan Idulfitri yang meriah di kalangan masyarakat gurun Tabuk, tempat adat istiadat yang kental akan keaslian dan martabat tampak hidup. 

Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara warisan dan kehidupan kontemporer, yang berakar pada irama nomaden di padang pasir. Unta, yang dihias untuk acara tersebut, memainkan peran utama dalam perayaan tersebut saat para penunggang unta mengarungi padang pasir, dengan gembira melantunkan syair tradisional untuk menandai hari raya tersebut.

Dilansir Arabnews, Rabu (2/4/2025), bentuk puisi Al-Hijini mendapatkan namanya dari unta-unta yang terlatih baik yang digunakan untuk berkuda dan berlomba. Melalui Al-Hijini, para penunggang unta melantunkan syair-syair yang mencakup berbagai tema kehidupan, yang sering kali berfokus pada patriotisme dan romansa. Irama syair-syair tersebut selaras dengan langkah unta yang mantap, sehingga menciptakan perpaduan kata-kata dan gerakan yang harmonis.

Terkenal karena melodinya yang sederhana dan tempo yang cepat, Al-Hijini secara alami menemani para pelancong dan kafilah gurun, membangkitkan semangat dan menenangkan kesunyian. 

Hal ini sangat erat kaitannya dengan budaya Badui, berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan emosi, mencatat pengalaman sehari-hari, menyampaikan kebijaksanaan, dan melestarikan peribahasa leluhur. 

Meski secara tradisional dibawakan secara solo, Al-Hijini kerap berubah menjadi nyanyian komunal selama perayaan seperti Idul Fitri dan acara-acara nasional, di mana pembacaan kolektif mencerminkan persatuan dan solidaritas masyarakat gurun Tabuk.

Read Entire Article
Politics | | | |