Di Balik Damai Amerika–Iran

2 hours ago 5

Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori, Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UIN-Jakarta, Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman yang membuka jalan bagi perundingan damai selama 60 hari, perhatian dunia langsung tertuju pada berakhirnya ketegangan yang selama lebih dari tiga bulan mengguncang kawasan Timur Tengah.

Namun, di balik euforia diplomasi tersebut, terdapat dua cerita besar yang berjalan beriringan: kekecewaan mendalam Israel dan tekanan ekonomi yang mendorong Washington untuk mengakhiri konfrontasi dengan Teheran.

Bagi Israel, kesepakatan ini bukan sekadar langkah diplomatik, melainkan perubahan strategis yang berpotensi mengurangi ruang geraknya dalam menghadapi Iran dan kelompok-kelompok sekutunya. Tidak mengherankan jika media dan kalangan politik yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh pemerintahan Trump telah memberikan konsesi berlebihan kepada Teheran. Beberapa bahkan menggunakan istilah yang keras, menyebut bahwa Washington telah "menjual Israel" demi mencapai kesepakatan dengan Iran.

Kekecewaan Tel Aviv dapat dipahami jika melihat substansi kesepahaman yang beredar. Kesepakatan tersebut membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mengurangi blokade terhadap Iran, memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, serta membuka jalan menuju pelonggaran sanksi ekonomi jika negosiasi berjalan sesuai rencana. Di saat yang sama, isu paling sensitif bagi Israel—yakni program rudal balistik Iran dan pengaruh regional Teheran melalui Hizbullah dan kelompok-kelompok sekutunya—tidak menjadi syarat utama dalam tahap awal kesepakatan.

Lebih jauh lagi, sumber-sumber Israel mengungkapkan bahwa Washington mendorong penarikan pasukan Israel dari sejumlah titik di Lebanon Selatan dan kawasan Gunung Hermon di Suriah demi menjaga momentum diplomatik dengan Iran. Bagi Netanyahu, tuntutan tersebut berarti mengorbankan apa yang dianggap sebagai pencapaian keamanan Israel di front utara.

Namun membaca kesepakatan ini semata-mata dari sudut pandang keamanan Israel akan membuat kita kehilangan gambaran yang lebih besar. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa Trump memilih berdamai sekarang? Jawabannya terletak pada ekonomi.

Di balik bahasa diplomasi dan stabilitas kawasan, terdapat kepentingan ekonomi global yang terlalu besar untuk diabaikan Washington. Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan sebagian besar ekspor energi negara-negara Teluk—mengalami gangguan serius. Penutupan dan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut tidak hanya mengganggu rantai pasok energi global, tetapi juga memicu lonjakan biaya logistik dan ketidakpastian pasar internasional.

Kesepakatan yang ditandatangani Washington dan Teheran secara khusus mewajibkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, pencabutan blokade laut Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pemberian keringanan terhadap sebagian sanksi minyak Iran. Selain itu, Amerika Serikat dilaporkan menyetujui pelepasan sekitar US$25 miliar aset Iran yang selama ini dibekukan dan berkomitmen untuk tidak menjatuhkan sanksi baru selama proses negosiasi berlangsung.

Reaksi pasar menunjukkan betapa besarnya dimensi ekonomi dari kesepakatan tersebut. Segera setelah nota kesepahaman diumumkan, harga minyak dunia turun tajam. Minyak Brent merosot ke kisaran US$78 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke sekitar US$75 per barel, level terendah sejak pecahnya konflik. Investor memperkirakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan mengembalikan puluhan juta barel minyak yang selama konflik tertahan di kawasan Teluk ke pasar global. Reuters bahkan melaporkan adanya sekitar 54 supertanker yang membawa hampir 87 juta barel minyak yang menunggu normalisasi jalur pelayaran tersebut.

Bagi Donald Trump, angka-angka tersebut jauh lebih penting daripada sekadar kemenangan simbolik di medan geopolitik. Stabilitas harga energi berarti menurunnya tekanan inflasi, berkurangnya biaya transportasi, dan membaiknya sentimen konsumen Amerika. Sebaliknya, perang berkepanjangan dengan Iran berisiko mendorong harga minyak kembali ke level tinggi yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Karena itu, kesepakatan dengan Teheran sesungguhnya merupakan langkah pragmatis untuk mengamankan kepentingan ekonomi domestik sekaligus menenangkan pasar energi global.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |