REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sebanyak 23 warga Gaza syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel yang berlangsung sejak Rabu dini hari. Ini adalah serangan besar-besaran kedua sejak Board of Peace yang semestinya membawa perdamaian ke Gaza diresmikan dua pekan lalu.
Gelombang baru serangan udara Israel menargetkan lingkungan Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza, bagian selatan Khan Younis dan al-Mawasi. Wilayah-wilayah tersebut berada di dalam area yang seharusnya menjadi zona aman.
Serangan-serangan ini telah menewaskan sedikitnya 23 orang, termasuk enam anak-anak, enam wanita dan satu paramedis Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, yang terbunuh saat mengevakuasi korban luka dari al-Mawasi.
Aljazirah melaporkan masyarakat di Jalur Gaza takut berada di jalan karena serangan-serangan ini tidak dapat diprediksi dan terjadi tanpa peringatan. Tidak ada komentar resmi dari militer Israel mengenai berapa lama kekerasan terbaru ini akan berlanjut, sehingga semua orang di sini berada dalam keadaan panik.
Seorang gadis berusia 11 tahun syahid dalam serangan Israel terhadap sebuah tenda di Deir el-Balah, menurut kantor berita Palestina Wafa. Wafa mengatakan gadis tersebut, Ghada al-Razayna, dan ayahnya, Ali al-Razayna, syahid dalam pemboman tersebut.
Warga Palestina lainnya terbunuh dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Shati dekat Kota Gaza.
Israel telah melanggar perjanjian “gencatan senjata” sebanyak 1.520 kali sejak perjanjian itu berlaku pada 10 Oktober tahun lalu, menewaskan 556 orang dan melukai 1.500 lainnya, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.
Israel terus “melakukan pelanggaran berat dan sistematis terhadap perjanjian [gencatan senjata]”, yang “merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum kemanusiaan internasional”, kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan. Di antara korban, 288 diantaranya adalah anak-anak, perempuan, dan orang tua, tambahnya.
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengatakan petugas tanggap darurat Gaza yang terbunuh, Hussein Hasan Hussein al-Sumairy, “sengaja menjadi sasaran” oleh militer Israel. Dalam sebuah pernyataan, PRCS mengecam pembunuhan al-Sumairy sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
“Kejahatan ini adalah bagian dari kebijakan sistematis [Israel] yang terus melemahkan sistem [respons] kesehatan dan darurat di Jalur Gaza” sejak pemboman Israel dimulai pada Oktober 2023, kata badan tersebut.
Mereka menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tindakan guna melindungi petugas kesehatan Palestina dan petugas tanggap darurat, dan menekankan bahwa tidak adanya tindakan akan memberi Israel lampu hijau untuk “terus melanggar hukum internasional dan menargetkan personel kemanusiaan”.
Sementara putri-putri Rami Abu Jameh termasuk di antara warga Palestina yang syahid dalam gelombang serangan Israel terbaru di Gaza. "Putra dan istri saya terluka. Saya kehilangan dua putri saya," kata sang ayah sambil berlinang air mata.
Hanan Ashrawi, mantan anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, mengecam berlanjutnya pemboman Israel terhadap Gaza dan pembatasan di penyeberangan Rafah dengan Mesir.
“Gencatan senjata macam apa ini? Israel terus menyerang dan mengebom Gaza,” tulisnya di X.
Ashrawi mencatat bahwa lebih dari 550 warga Palestina telah syahid dalam serangan Israel sejak “gencatan senjata” yang ditengahi AS mulai berlaku pada bulan Oktober. “Perlintasan Rafah terus menjadi “lintasan” menyakitkan dan penghinaan yang kejam dan sangat dibatasi, membuat segelintir warga Gaza yang kembali harus diinterogasi dalam waktu lama, penundaan tanpa akhir (terkadang hingga berhari-hari), dan penyitaan barang bawaan mereka,” katanya.
"Mereka yang masuk jelas mengalami trauma berat. Mereka yang harus keluar untuk menerima perawatan medis yang mendesak tertunda atau ditolak keluar, sehingga membatasi jumlah mereka hingga mencapai angka tertentu. “Ini terus menjadi perang agresi yang memiliki banyak segi, berdasarkan pada manipulasi yang disengaja atas penderitaan orang-orang yang ditawan.”
Peningkatan serangan bom yang dilakukan Israel di Gaza menunjukkan niatnya untuk “mengganggu” fase kedua “gencatan senjata”, kata pejabat Hamas dalam sebuah pernyataan.
“Klaim pendudukan [Israel] mengenai insiden penembakan yang menargetkan salah satu tentaranya hanyalah sebuah dalih terselubung untuk membenarkan berlanjutnya pembunuhan dan agresi.”

1 hour ago
3














































