Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu (kiri) dan mantan perdana menteri Israel Ehud Barak.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Rekaman dari dokumen terkait predator seksual Jeffrey Epstein mengungkapkan rencana mantan perdana menteri Israel Ehud Barak menerima sejuta warga berbahasa Rusia ke Israel. Rencana itu bagian dari upaya rasis mengimbangi imigran Yahudi dari Timur Tengah.
Dalam rekaman suara tersebut, Barak mengatakan banyak yang akan mengajukan permohonan dan beradaptasi di bawah “tekanan sosial,” dan menambahkan bahwa pihak berwenang bisa lebih “selektif” dibandingkan gelombang aliyah sebelumnya.
"(Dulu) mereka menerima siapapun yang datang hanya untuk menyelamatkan orang. Sekarang kita bisa selektif," katanya dilansir Jerusalem Post, Rabu.
Barak menyatakan bahwa Israel dapat “mengendalikan kualitas” pendatang baru dengan lebih efektif dibandingkan dekade-dekade sebelumnya dan berpendapat bahwa kebutuhan dapat menciptakan “fleksibilitas.”
Rekaman tak bertanggal tersebut mengungkapkan bahwa Barak berbicara terus terang kepada Epstein tentang kebutuhan Israel akan “satu juta orang Rusia tambahan untuk membawa perubahan dalam struktur negara.”
Barak berpendapat bahwa jumlah ini akan membawa perubahan yang “sangat dramatis” di Israel, tidak hanya secara demografis, tetapi juga dalam struktur ekonomi dan budaya masyarakat Israel.
Berdasarkan bocoran tersebut, Barak menekankan selama pembicaraan bahwa Israel dapat menyerap jumlah ini dengan “mudah”. Namun ia menekankan perlunya pihak berwenang untuk “lebih selektif” dibandingkan pada gelombang imigrasi sebelumnya, dan mencatat bahwa keadaan saat ini sangat berbeda dari gelombang imigrasi sebelumnya.
Barak menambahkan, Israel, tidak seperti dulu ketika tujuan mendatangkan imigran adalah untuk “menyelamatkan orang” dan menerima semua orang yang datang, kini bisa lebih selektif dan mengontrol apa yang disebutnya “kualitas” imigran baru.

1 hour ago
2















































