Gifted Tanpa Arah: Ketika Potensi Besar tidak Menemukan Jalan

4 hours ago 5

Image Margie A.H

Parenting | 2026-08-20 12:09:26

Ketika mengetahui anak memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang tua biasanya merasa bangga. Anak cepat memahami sesuatu, mampu menemukan pola yang luput dari teman seusianya, atau mengajukan pertanyaan yang membuat orang dewasa berpikir ulang. Rasanya seperti melihat tiket menuju masa depan yang gemilang.

Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:

Ke mana kecerdasan itu akan diarahkan?

Sebab kecerdasan adalah potensi. Ia bukan kompas.

Psikolog pendidikan Linda Kreger Silverman menjelaskan konsep asynchronous development, yaitu perkembangan yang tidak seragam. Anak gifted dapat memiliki kemampuan intelektual jauh lebih maju, sementara perkembangan emosi, sosial, dan kematangan dirinya belum tentu berjalan pada kecepatan yang sama.

Seorang anak bisa memahami persoalan rumit, tetapi tetap membutuhkan bantuan untuk mengelola marah, kecewa, takut, frustrasi, dan kegagalan.

Di sinilah parenting menjadi penting.

Ketika Potensi Membutuhkan Arah

Kemampuan besar tidak otomatis menemukan penggunaan yang tepat. Anak yang persuasif dapat menjadi pemimpin hebat, tetapi perlu belajar bahwa kemampuan memengaruhi orang lain bukan berarti boleh memanipulasi.

Anak yang kritis dapat menjadi peneliti atau inovator, tetapi memahami celah aturan bukan berarti bebas melanggarnya. Kreativitas dapat menghasilkan karya dan solusi, tetapi tetap membutuhkan nilai dan tanggung jawab.

Begitu pula perfeksionisme. Ia dapat mendorong ketekunan dan kualitas, tetapi ketika harga diri bergantung pada keberhasilan, kegagalan kecil dapat terasa seperti bencana.

Karena itu, “salah arah” tidak selalu berarti sesuatu yang ekstrem. Ia dapat dimulai dari merasa harus selalu benar, sulit menerima kekalahan, mengakali aturan, merendahkan orang lain, atau tidak mampu mengelola frustrasi.

Kecerdasan dan karakter adalah dua hal berbeda.

Bayangkan sebuah pisau yang sangat tajam. Kita tentu ingin menjaganya tetap tajam. Tetapi semakin tajam pisau, semakin penting mengajarkan kapan digunakan, untuk apa, dan bagaimana menggunakannya tanpa melukai.

Begitu pula kecerdasan. Kita perlu mengasah kemampuan berpikir anak, tetapi sekaligus membangun “pegangan”: empati, regulasi emosi, nilai moral, tanggung jawab, kemampuan memahami konsekuensi, dan keberanian meminta bantuan.

Masalahnya bukan pada pisau yang tajam, melainkan ketika ketajaman tidak disertai arah dan kendali.

Ketika Orang Tua Menentukan Arah Terlalu Keras

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: ketika orang tua terlalu menentukan arah anak. Mengetahui anak gifted sering membuat orang tua takut potensinya terbuang. Les ditambah, target dinaikkan, prestasi harus dipertahankan. Pilihan sekolah, kegiatan, bahkan cita-cita bisa perlahan berubah menjadi proyek orang tua.

Niatnya mungkin cinta. Namun, mendorong potensi berbeda dengan memaksakan ambisi.

Mendorong berarti membantu anak menemukan kemampuan dan minatnya. Memaksakan berarti menentukan apa yang harus ia capai agar sesuai dengan harapan orang dewasa.

Pada anak yang sejak kecil selalu dianggap “pintar”, kalimat seperti “Kamu pasti bisa”, “Sayang kalau tidak dimanfaatkan”, atau “Harusnya kamu bisa lebih baik” dapat menjadi tekanan jika terus diberikan tanpa ruang untuk gagal dan memilih.

Anak akhirnya tidak lagi bertanya, “Apa yang ingin aku lakukan?”

Ia mulai bertanya:

“Apa yang harus aku lakukan supaya orang tuaku tetap bangga?”

Tekanan seperti ini tidak berarti otomatis menyebabkan depresi. Depresi merupakan kondisi kompleks dengan banyak faktor. Namun, pola pengasuhan yang terlalu mengontrol dan minim otonomi dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis anak.

Review Papadopoulos (2021) mengenai parenting anak gifted menunjukkan bahwa pengasuhan yang mendukung otonomi dan motivasi diri berkaitan dengan perkembangan yang lebih baik, sementara pola yang terlalu otoriter dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental.

Gifted Tidak Kebal terhadap Depresi

Kita juga perlu berhati-hati dengan anggapan bahwa anak gifted otomatis lebih rentan mengalami depresi.

Meta-analisis Duplenne dan rekan-rekan (2024), yang menganalisis 15 studi, tidak menemukan perbedaan signifikan tingkat depresi antara individu gifted dan individu yang berkembang secara tipikal. Artinya, giftedness sendiri tidak dapat dianggap sebagai penyebab depresi.

Namun, anak gifted tetap bisa mengalami depresi. Dan kecerdasan tidak otomatis menjadi pelindung.

Mueller (2009) menemukan bahwa dukungan sosial di rumah dan sekolah berperan sebagai faktor protektif terhadap depresi pada remaja, baik gifted maupun non-gifted.

Sementara itu, Jackson dan Peterson (2003) menunjukkan bahwa sebagian remaja yang sangat gifted dapat menyembunyikan gejala depresi yang berat. Salah satu persoalan yang dibahas adalah rasa malu karena merasa seharusnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Bayangkan anak yang sejak kecil selalu menjadi tempat bertanya.

Ia cepat memahami pelajaran. Ia mampu memecahkan masalah. Semua orang menganggapnya mampu.

Lalu suatu hari ia menghadapi persoalan yang tidak bisa ia pecahkan.

Mungkin muncul pertanyaan:

“Kalau aku pintar, mengapa aku tidak bisa menyelesaikan ini?”

Atau lebih menyakitkan:

“Kalau aku gagal, apakah mereka masih bangga kepadaku?”

Karena itu, ketika anak berkata, “Aku capek,” jangan selalu menjawab, “Kamu kan pintar.”

Mungkin ia justru membutuhkan:

“Tidak apa-apa kalau kali ini kamu tidak tahu harus bagaimana. Kita cari jalan bersama.”

Sebab meminta pertolongan bukan tanda kegagalan.

Kita Tidak Sedang Membesarkan Skor IQ

Anak gifted perlu belajar bukan hanya bagaimana berpikir, tetapi untuk apa pikirannya digunakan.

Ia perlu belajar rendah hati ketika lebih cepat memahami sesuatu, empati ketika memiliki kemampuan lebih, menghadapi kegagalan ketika terbiasa berhasil, dan mengendalikan diri ketika emosinya kuat.

Ia juga perlu tahu bahwa cita-citanya boleh berkembang, pilihannya boleh didiskusikan, dan hidupnya tidak harus menjadi perwujudan ambisi orang lain.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang anak gifted bukan hanya:

“Seberapa tinggi IQ-nya?”

Tetapi:

“Apakah ia memiliki bekal emosional, sosial, dan moral untuk menggunakan kecerdasannya dengan baik?”

Dan mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting:

“Apakah di rumah ia merasa dicintai karena dirinya, atau karena pencapaiannya?”

Kita tidak sedang membesarkan sebuah skor IQ.

Kita sedang membesarkan manusia.

Anak yang cerdas tidak hanya membutuhkan arah dan jalan menuju prestasi.

Ia membutuhkan rumah yang menjadi kompas, tempat ia boleh gagal, boleh berbeda, boleh meminta pertolongan, dan tetap merasa berharga.

Referensi

Silverman, L. K. (1997). The Construct of Asynchronous Development. Peabody Journal of Education, 72(3–4), 36–58.

Papadopoulos, D. (2021). Parenting the Exceptional Social-Emotional Needs of Gifted and Talented Children: What Do We Know? Children, 8(11), 953.

Mueller, C. E. (2009). Protective Factors as Barriers to Depression in Gifted and Nongifted Adolescents. Gifted Child Quarterly, 53(1), 3–14.

Jackson, P. S., & Peterson, J. (2003). Depressive Disorder in Highly Gifted Adolescents. Journal of Secondary Gifted Education, 14(3), 175–186.

Duplenne, L., Bourdin, B., Fernandez, D. N., Blondelle, G., & Aubry, A. (2024). Anxiety and Depression in Gifted Individuals: A Systematic and Meta-Analytic Review. Gifted Child Quarterly, 68(1), 65–83.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |