Menyembunyikan TB, Melumpuhkan Negeri

3 hours ago 5

Image Riski Situmorang

Edukasi | 2026-08-20 16:23:24

Empat belas nyawa melayang setiap jam. Bukan karena gempa, bukan karena kecelakaan lalu lintas, melainkan karena penyakit yang sepenuhnya bisa disembuhkan. Tuberkulosis—penyakit yang oleh sebagian kalangan masih dianggap peninggalan zaman kolonial—sebenarnya sedang membunuh lebih dari 125.000 orang Indonesia setiap tahun. Dan ini bukan sekadar angka di laporan kesehatan; setiap korban adalah seorang ayah, ibu, anak, atau tenaga kerja yang hilang dari tengah keluarga dan masyarakatnya.

Yang membuat masalah ini semakin getir adalah kenyataan bahwa negara ini sesungguhnya tahu cara menyembuhkannya. Obat TB tersedia, bahkan digratiskan pemerintah. Pengetahuan medisnya jelas, anggaran programnya ada, dan strategi nasionalnya telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Namun TB tetap merajalela, tetap menjadi pembunuh senyap nomor satu penyakit menular di negeri ini, dan tetap menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan estimasi 1.090.000 kasus baru per tahun menurut Global TB Report 2024.

Jika obatnya ada dan gratis, mengapa kematian tidak juga berhenti? Jawabannya tidak terletak di laboratorium, melainkan di ruang tamu kita, di warung kopi, di meja kantor, dan di kepala kita sendiri: kita terbiasa menyembunyikan penyakit ini, dan kebiasaan menyembunyikan itulah yang melumpuhkan negeri.

Kasus yang Menghilang dalam Senyap

Seharusnya kita curiga ketika melihat angka yang timpang. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, dari estimasi 1.090.000 kasus TB baru per tahun, hanya sekitar 885.000 kasus yang berhasil ditemukan dan dilaporkan pada 2024. Lebih dari dua ratus ribu orang dengan kata lain tidak pernah tercatat, tidak pernah diobati secara formal, dan tidak pernah dihitung. Mereka bukan hantu statistik, melainkan manusia yang batuk berbulan-bulan di gang sempit, mengurung diri di kamar, dan akhirnya meninggal tanpa diagnosis yang jelas.

Ke mana mereka menghilang? Jawabannya teramat sederhana dan teramat manusiawi: rasa malu. Di banyak keluarga kita, terdiagnosis TB masih diperlakukan seperti aib yang harus dikubur. Tetangga ditakutkan menjauh, calon menantu mundur teratur, atasan mencari-cari alasan agar karyawan yang sakitnya diungkap perlahan kehilangan tempatnya. Seseorang yang batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam sore, keringat malam, dan berat badan turun, lebih memilih meracik obat batuk dari warung ketimbang melangkah ke puskesmas. Bukan karena ia tidak tahu tempat berobat, tetapi karena ia tahu persis apa yang akan dikatakan orang-orang di sekitarnya.

Padahal pilihan diam ini memiliki harga yang sangat mahal. TB ditularkan lewat udara; setiap bulan penundaan pengobatan adalah tambahan waktu bagi bakteri untuk menyebar ke rumah, angkutan umum, kantor, dan kelas sekolah. Stigma yang kita bangun bersama justru bekerja sebagai mesin penularan paling efisien. Dan ketika kita menilainya dengan rupiah, kerusakan yang ditimbulkannya benar-benar luar biasa: Menteri Kesehatan mencatat TB merugikan ekonomi nasional sekitar Rp136,7 triliun per tahun, dan sekitar 70 persen pasien TB kehilangan pekerjaannya. Di sini letak ironi terbesar: penyakit yang bisa disembuhkan malah melumpuhkan penghidupan, bukan karena bakterinya kebal obat, tetapi karena masyarakatnya menyembunyikan penderitanya.

Negara Sudah Bergerak, Rakyat Masih Bersembunyi

Adalah tidak adil jika kritik hanya ditujukan kepada pemerintah. Faktanya, negara sudah bergerak. Melalui Perpres 67 Tahun 2021, strategi penanggulangan TB mencakup penguatan komitmen dari pusat hingga daerah, penggratisan obat, hingga penguatan peran komunitas. Pemerintah daerah menggaungkan gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh hingga ke pelosok, termasuk di provinsi-provinsi prioritas dengan kasus tinggi. Instrumennya lengkap: obat gratis, panduan jelas, tenaga kesehatan siap melayani.

Namun kebijakan sekuat apa pun akan menjadi dokumen indah yang tersimpan rapi jika warga negaranya tetap memilih bersembunyi. Eliminasi TB tidak akan pernah tercapai jika hanya dititipkan kepada dokter paru dan petugas puskesmas. Ia membutuhkan kesadaran kolektif yang justru masih kita hindari. Masyarakat harus menjadi mata pertama yang mengenali gejala pada tetangga dan kerabatnya, menjadi Pengawas Minum Obat yang setia mendampingi pasien selama berbulan-bulan pengobatan, dan menjadi komunitas yang menyambut tangan terbuka bagi yang sembuh, bukan pintu tertutup bagi yang sakit.

Ujian sesungguhnya dari tema "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat" bukan di podium pejabat, melainkan di meja makan keluarga yang berani membawa anaknya ke puskesmas saat batuk tak kunjung reda, di perusahaan yang tidak mengorbankan karyawan yang sedang diobati, dan di majelis taklim yang berani menjadikan TB materi pengajian, bukan topik pantangan.

Kita juga tidak boleh menutup mata pada faktor penguat wabah yang selama ini dibiarkan. Indonesia memiliki lebih dari 61 juta perokok, dan temuan Joint External Monitoring Mission menunjukkan 36 persen kasus TB di negeri ini berkaitan dengan kebiasaan merokok. Merokok melemahkan paru-paru, memperbesar risiko tertular, dan memperparah perjalanan penyakit. Lebih menyakitkan lagi, Indonesia masih menjadi satu-satunya negara Asia-Pasifik yang belum meratifikasi kerangka kerja internasional pengendalian tembakau. Selama kebiasaan merokok massif dibiarkan tanpa kendali serius, upaya eliminasi TB akan terus seperti memompa air dari perahu yang bocor.

Mengakhiri Era Kerahasiaan

Menutup wabah tidak dimulai dari vaksin atau dari laboratorium; ia dimulai dari keberanian membuka mulut. Batuk lama harus diperlakukan sebagai alarm kesehatan yang wajib diperiksa, bukan rahasia keluarga yang ditakutkan. Diagnosis dini berarti pengobatan lebih singkat, biaya lebih ringan, dan peluang menularkan jauh lebih kecil. TB harus dibebaskan dari beban moral; pasien TB bukanlah kutukan, melainkan orang yang butuh dukungan hingga sembuh tuntas.

Target eliminasi TB pada 2030 bukan garis finish yang ditentukan pemerintah sendirian, melainkan janji bersama yang hanya dapat ditepati ketika setiap keluarga berani membuka pintu, setiap komunitas berani peduli, dan setiap penderita berani berkata jujur tentang sakitnya. Selama kita menyembunyikan TB, kita sesungguhnya memilih lumpuh secara kolektif. Namun ketika kita mengungkapkannya dan mengobatinya sampai tuntas, di situlah dimulai pembangunan masyarakat sehat yang menjadi tulang punggung Indonesia kuat.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Referensi:

1.Kementerian Kesehatan RI. (2025). Indonesia's Movement to End TB (Gerakan Indonesia Akhiri TBC). Diakses dari kemkes.go.id — data estimasi 1.090.000 kasus, 125.000 kematian per tahun, 885.000 kasus ditemukan 2024, dan Perpres No. 67 Tahun 2021.

2.World Health Organization. (2024). Global Tuberculosis Report 2024. Diakses dari who.int — posisi Indonesia sebagai negara beban TB tertinggi kedua di dunia.

3.The Union. (2022). Invest in Tobacco Control to End Tuberculosis in Indonesia. Diakses dari theunion.org — data kerugian ekonomi Rp136,7 triliun per tahun, 70% pasien kehilangan pekerjaan, 61,4 juta perokok, dan 36% kasus TB terkait rokok.

4.Kementerian Koordinator PMK. (2025). Gerakan TOSS TBC Menggema di Makassar. Diakses dari kemenkopmk.go.id — gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh menuju eliminasi TB 2030.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |