Foto udara yang diambil dengan drone menunjukkan tenda-tenda di antara reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara dan darat Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, Ahad (16/2/2025). Warga Gaza telah kembali ke rumah mereka pasca adanya genjatan senjata. Namun mereka dihadapkan pada persoalan membangun kembali tempat tinggal mereka yang sebagian besar hancur akibat serangan darat dan udara Israel. Warga Gaza, kini hidup diantara reruntuhan bangunan, mencoba membangun kembali rumah-rumah mereka dengan kemampuan seadanya.
Oleh : KH DR Aguk Irawan, Lc MA Pengasuh Pesantren Bailtul Kilmah Bantul Yogyakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Dalam sejarahnya, NU didirikan dengan tiga misi besar, pertama untuk menegakkan syiar agama Islam dari para kolonialis-misioneris.
Kedua untuk menjaga amaliah Sunni-Aswaja (pesantren) dari banyaknya aliran yang mengatas namakan puritanisme Islam. Ketiga, berupaya menghapuskan segala macam bentuk penjajahan dengan spirit nasionalisme.
Karena itu para muasis NU, terutama Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, melihat konflik Israel-Palestina persoalan utamanya bukan konflik agama dan politik, yaitu tentang siapa yang paling berhak memiliki tanah, tetapi beliau melihat apa yang terjadi di Palestina sama dengan yang ada di Tanah Air, yaitu telah berlangsungnya penjajahan (kolonialisme) selama bertahun-tahun.
Melihat konflik Israel-Palestina dari sudut kolonialisme ini perlu kiranya kita merujuk pada lembaran historis sikap pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan merunutnya dari sejak berakhirnya Perang Dunia II (1939-1945).
Sekitar delapan tahun sebelum berakhirnya Perang Dunia II, Kiai Hasyim telah tegas menyatakan bahwa konflik Israel Palestina adalah seperti yang terjadi di Indonesia saat itu, yaitu adanya kolonialisme dan mengajak umat Islam Indonesia untuk mengumpulkan dana yang diberikan kepada rakyat Palestina melalui Palestina Fons dan Majelis Rajabiyah, dimulai 19 Ramadhan 1356 H atau 23 November 1937
Hasilnya, waktu itu ratusan ribu gulden berhasil dikumpulkan dan dikirimkan ke Palestina untuk perjuangan kemerdekaan dan umat Islam di sana.
BACA JUGA: Konflik Internal Israel Semakin Tajam, Saling Bongkar Aib Antara Ben-Gvir Versus Shin Bet
Kemudian Kiai Hasyim Asyari membangun komunikasi dengan Ketua Kongres Islam Sedunia di Palestina, Syekh H M Amin Al-Husaini.
Bagi Kiai Hasyim, Syekh Amin bukan orang asing, melainkan sahabat ketika sama-sama menuntut ilmu di tanah hijaz dan surat balasan Kiai Hasyim Asy’ari kepada Syekh H M Amin Al-Husaini mencerminkan ikatan solidaritas yang kuat antara umat Islam di Indonesia dan Palestina dalam menghadapi penjajahan serta perjuangan untuk meraih kemerdekaan.