REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sutradara Hanung Bramantyo kembali menghadirkan karya layar lebar yang sarat pesan moral. Bersama MD Pictures, Hanung mengadaptasi film legendaris asal Iran, Children of Heaven, ke dalam versi Indonesia dengan latar sekolah Muhammadiyah dan nuansa pendidikan karakter yang kuat.
Dalam acara screening bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, Hanung menegaskan film ini dibuat bukan sekadar sebagai tontonan keluarga, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi anak-anak agar tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan hidup. Film ini mengangkat kisah Ali dan Zahra, kakak-beradik yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Namun bagi Hanung, kekuatan utama cerita tersebut bukan hanya soal kemiskinan, melainkan ketangguhan mental anak-anak dalam menghadapi persoalan tanpa terus-menerus menyalahkan keadaan.
"Sebagai seorang ayah dan bapak, setiap kali saya membuat sebuah film, anak-anak saya tidak bisa menonton film-film saya. Oleh karena itu, saya berharap kali ini anak-anak saya, teman-temannya, dan anak-anak semua bisa ikut menonton dan menikmati," ujar Hanung, Rabu (20/5/2026).
"Ketika mendapatkan kesulitan, mereka tidak langsung drama atau merengek-rengek. Ali dan Zahra punya semacam self-defensive, pertahanan diri yang ditujukan agar tidak membebani pikiran orang tuanya. Bahkan saat sepatunya hilang, Ali tidak pernah menyalahkan siapa pun, termasuk bapaknya," ujarnya.
Hanung menyampaikan, pesan dalam film tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika banyak orang dinilai mudah meluapkan keluhan di media sosial. Menurutnya, karakter Ali justru menunjukkan sikap berbeda karena memilih mencari jalan keluar dibanding terus meratapi keadaan.
Oleh karenanya, film ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak masa kini untuk belajar memahami kondisi keluarga, terutama di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah.
"Setidaknya jangan meminta satu hal yang orang tua kita berat. Mari kita berusaha untuk memecahkan persoalan kita sendiri," ujarnya.
Alasan Latar Muhammadiyah
Dalam film yang diadaptasi ini, Hanung memilih menjadikan SD Muhammadiyah sebagai latar utama cerita dengan setting tahun 1988. Pemilihan tersebut bukan tanpa alasan. Selain menyesuaikan konteks sejarah, ternyata Hanung ingin menghadirkan nilai pendidikan Muhammadiyah yang menurutnya membentuk mentalitas dirinya hingga sekarang.
Sebagai alumni Muhammadiyah, Hanung mengaku nilai yang diajarkan guru-gurunya selama sekolah menjadi alasan dirinya menggandeng Muhammadiyah dalam proyek film tersebut, terutama terkait pendidikan karakter agar anak tidak mudah mengeluh.
"Saya adalah lulusan Muhammadiyah. Bagaimana Muhammadiyah menggembleng mental saya saat itu untuk selalu malu kalau harus mengeluh atas keadaan. Guru-guru saya mengajarkan bagaimana agar kita tidak cepat mengeluh, tapi mencari jalan keluar. Itulah mengapa saya menggandeng Muhammadiyah agar bisa memberikan dukungan penuh terhadap film positif ini," katanya.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, menilai film tersebut tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga menjadi refleksi bagi orang tua dalam membangun pendidikan karakter di rumah.
"Dalam satu keluarga itu, antara adik dan kakak tidak gampang untuk mengakurkan itu. Nah, itu juga menjadi penting menurut saya. Si Ali dengan adiknya itu tidak mungkin akur kalau tidak ada pendidikan karakter yang bagus dari kedua orang tuanya," ujar Irwan Akib usai menyaksikan pemutaran film.
Menurutnya, perjuangan Ali dalam menghadapi keterbatasan hidup menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dalam keluarga, mulai dari kejujuran, tanggung jawab, hingga ketangguhan menghadapi persoalan. Meski mengambil latar era 1980-an hingga 1990-an, Irwan Akib menilai pesan yang disampaikan film tersebut masih relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
Irwan pun mengajak para orang tua dan guru menonton film tersebut bersama anak-anak agar bisa memahami peran masing-masing dalam kehidupan keluarga maupun pendidikan.
"Film ini betul-betul menggambarkan bagaimana pendidikan karakter yang kuat di dalam sebuah keluarga. Di kehidupan sekarang ini masih banyaklah yang kondisinya mungkin mirip, walaupun tentu berbeda lingkungannya," katanya.
"Kalau perlu satu keluargalah untuk melihat secara bersama-sama supaya saling memahami. Oh, kalau saya sebagai anak posisi saya seperti apa, sebagai ibu seperti apa, sebagai bapak posisinya seperti apa. Demikian juga teman-teman Bapak dan Ibu Guru, supaya bisa memahami betul bagaimana harapan anak didik," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Perwakilan MD Pictures, Firauzi Cece yang mengharapkan film ini bisa menjadi media pembelajaran utamanya membentuk karakter anak-anak.
"Kami berharap film ini bisa memberi informasi pembangunan karakter anak-anak, mendidik anak supaya lebih baik lagi," ucapnya.

2 days ago
20
















































