REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia dan Australia memperkuat kolaborasi pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung pelayanan kesehatan primer. Pengembangan teknologi tersebut difokuskan pada pengelolaan data kesehatan ibu dan anak, pemantauan risiko kehamilan, serta penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat.
Pembelajaran dari pengembangan dan penerapan AI di tingkat layanan primer dibahas dalam seminar Diseminasi Nasional AI in Health Care Project yang digelar secara hibrida di Lombok Astoria, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Seminar tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, serta mitra pembangunan untuk membahas pengalaman penerapan teknologi AI dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
AI in Health Care Project merupakan kolaborasi Summit Institute for Development (SUMMIT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), CSIRO Australia, dan Universitas Mataram (UNRAM), dengan dukungan KONEKSI – Australia-Indonesia Knowledge Partnership.
Proyek tersebut berangkat dari kebutuhan di tingkat layanan primer, khususnya pengelolaan data kesehatan ibu yang sebagian masih dicatat secara manual. Data tersebut kemudian dikembangkan agar dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pelayanan dan pengambilan keputusan tenaga kesehatan.
Dalam proyek ini, para mitra mengembangkan tiga komponen teknologi yang saling terhubung, yakni Bunda Optical Character Recognition (OCR), AI Predictive Dashboard, dan AI Personalized Message.
Bunda OCR dikembangkan untuk membantu bidan mendigitalisasi informasi dari Buku KIA. Teknologi tersebut mengubah informasi yang tercatat dalam dokumen kesehatan menjadi data digital sehingga mengurangi kebutuhan pemindahan data secara manual.
Data yang telah tersedia kemudian dapat digunakan melalui AI Predictive Dashboard sebagai alat pendukung keputusan bagi tenaga kesehatan.
Dashboard menyajikan informasi kehamilan dan hasil prediksi risiko sehingga bidan dapat memantau kondisi pasien, mengidentifikasi pasien yang membutuhkan perhatian lebih, menentukan prioritas pelayanan, serta mendukung tindak lanjut.
Sementara itu, AI Personalized Message digunakan untuk memperluas pemanfaatan teknologi hingga kepada ibu hamil. Dengan menggunakan WhatsApp sebagai kanal komunikasi, sistem dapat menyampaikan informasi, edukasi, dan pesan kesehatan berdasarkan informasi yang tersedia mengenai ibu hamil.
Ketiga teknologi tersebut dikembangkan dalam satu alur, mulai dari digitalisasi data, pengolahan data menjadi informasi pendukung pelayanan, hingga komunikasi kesehatan dengan ibu hamil.
Webinar tersebut juga membagikan pengalaman implementasi teknologi oleh tenaga kesehatan dari empat kabupaten lokus, yakni Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Garut.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai penggunaan teknologi dalam pelayanan sehari-hari sekaligus berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan AI di layanan kesehatan primer.
Peserta juga dapat melihat demonstrasi ketiga teknologi, mulai dari digitalisasi data menggunakan Bunda OCR, pemanfaatan AI Predictive Dashboard, hingga penyampaian pesan kesehatan melalui AI Personalized Message.
Forum tersebut turut memaparkan hasil studi penilaian dampak yang dilakukan selama proyek, termasuk pengalaman pengguna, pemanfaatan teknologi dalam proses pelayanan, serta pembelajaran dari penerapannya di lapangan.
Melalui diskusi panel dan sesi tanya jawab, peserta membahas peluang dan tantangan penerapan AI dalam sistem kesehatan Indonesia. Topik yang dibahas mencakup kesiapan infrastruktur dan ekosistem digital, kapasitas sumber daya manusia, kualitas dan tata kelola data, serta kebutuhan kolaborasi lintas sektor.
Pembahasan juga menekankan pentingnya memastikan pemanfaatan AI tetap mendukung tenaga kesehatan dan menjawab kebutuhan masyarakat dalam proses pelayanan.
CEO Summit Institute for Development Yuni Dwi Setiyawati mengatakan, pengembangan teknologi tersebut berangkat dari kebutuhan untuk membuat data kesehatan yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Banyak data kesehatan yang tersebar, namun seringkali belum dimanfaatkan secara optimal. Inilah yang memotivasi kita untuk mencari cara bagaimana mendigitalisasi data manual agar dapat diolah dan dimanfaatkan untuk membantu tenaga kesehatan memberikan respons yang lebih cepat,” ujar Yuni, Jumat (28/8/2026).
Melalui kolaborasi antara institusi penelitian, perguruan tinggi, mitra teknologi, pemerintah, dan tenaga kesehatan, proyek tersebut diharapkan memberikan pembelajaran bagi pengembangan solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan primer di Indonesia.
Pengalaman dari implementasi di sejumlah daerah juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI di sektor kesehatan secara lebih luas.

2 hours ago
16
















































