REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat melalui Forum Group (FG) Ekonomi dan Keuangan Syariah menggelar talkshow dan halal bihalal bertema “Mengembangkan Ekonomi Syariah yang Adaptif dan Inklusif: Menggali Pemikiran Prof Sumitro Djojohadikusumo” di Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam memperdalam peran ekonomi syariah sebagai bagian dari transformasi struktur ekonomi nasional yang berkeadilan, mandiri, dan berkelanjutan.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Muliaman D Hadad selaku Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara sekaligus Wakil Ketua Dewan Pengawas ISEI.
Selain itu, Aida S Budiman selaku Deputi Gubernur BI dan Ketua Bidang Perumusan Kebijakan Makroekonomi dan Keuangan PP ISEI. Kehadiran para pemangku kebijakan ini mempertegas pentingnya ekonomi syariah dalam arsitektur kebijakan ekonomi nasional.
Dalam sambutannya, Ketua FG Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI sekaligus Wakil Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Bob T Ananta, menegaskan pentingnya pembangunan ekonomi yang terarah dan terintegrasi, sebagaimana ditekankan dalam konsep Sumitronomics.
Menurut dia, pengembangan ekonomi syariah perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan nasional yang tidak hanya berfokus pada sektor keuangan, juga mendorong penguatan sektor riil dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
''Perbankan syariah, memiliki peran sebagai enabler dalam ekosistem ekonomi syariah, mulai dari pembiayaan UMKM melalui berbagai inisiatif seperti UMKM Center, hingga penguatan ekosistem halal yang mencakup sektor pendidikan, gaya hidup halal, serta industri haji dan umrah,'' katanya dalam keterangan yang dikutip Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, penguatan ekonomi syariah memerlukan sinergi yang erat antara kebijakan dan pelaku industri, sehingga mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkeadilan bagi masyarakat.
Ia juga menyatakan, semakin besar kontribusi industri perbankan syariah, semakin besar pula dampak yang dapat diberikan kepada masyarakat secara keseluruhan .
Dalam keynote speech-nya, ekonom Anggito Abimanyu menyatakan, ekonomi syariah memiliki karakteristik unik sebagai perpaduan antara ilmu ekonomi dan prinsip hukum Islam, dengan tujuan utama mencapai kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan, dimensi kepatuhan religius menjadi fondasi utama dalam ekonomi syariah, yang membedakannya dari sistem ekonomi konvensional. Lebih lanjut, Anggito mengaitkan prinsip ekonomi syariah dengan pemikiran Prof Sumitro Djojohadikusumo.
Khususnya, terkait pentingnya kemandirian ekonomi nasional dan pembangunan inklusif. Prinsip transaksi dalam ekonomi syariah, jelas dia, harus mencerminkan keseimbangan antara aspek halal, baik (thayib), dan memberikan manfaat (maslahat), yang secara keseluruhan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks pengembangan ke depan, Anggito juga menyoroti tantangan mendasar ekonomi syariah, yaitu masih adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah.
Karena itu, diperlukan upaya lebih sistematis untuk memperkuat pemahaman sekaligus mendorong pemanfaatan layanan keuangan syariah agar dapat berkontribusi lebih optimal terhadap pembangunan ekonomi nasional
Sesi diskusi panel menjadi inti dari forum ini dengan menghadirkan berbagai perspektif strategis. Pakar ekonomi, Murniati Mukhlisin menekankan pentingnya penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui pendekatan ekosistem kolaboratif berbasis model ABG-MAC, yang mengintegrasikan peran akademisi, bisnis, pemerintah, media, agregator, dan komunitas dalam membangun ekosistem yang inklusif .
Selanjutnya, Sutan Emir Hidayat dari KNEKS menyatakan, pengembangan ekonomi syariah memerlukan pendekatan terintegrasi yang mencakup penguatan industri halal, ekspor, keuangan syariah, serta ekosistem pendukung lainnya.
''Ekonomi syariah telah menjadi bagian dari agenda strategis nasional dalam RPJPN dan RPJMN, dengan target peningkatan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,'' ujarnya.
Dalam perspektif kebijakan makro, Ali Sakti dari Bank Indonesia menekankan, penguatan ekonomi syariah perlu didukung instrumen kebijakan makro dan moneter yang tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas, tetapi juga mampu mendorong transformasi ekonomi.
Pendekatan kebijakan berbasis nilai menjadi penting untuk memastikan ekonomi syariah berkontribusi pada penguatan sektor riil, pemerataan kesejahteraan, serta pembentukan struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan pemikiran Prof Sumitro.
Dari sisi implementasi industri, pakar ekonomi, Banjaran Surya Indrastomo menilai, arah kebijakan ekonomi syariah di Indonesia telah semakin progresif dan terintegrasi dengan agenda pembangunan nasional.
Namun demikian, tantangan utama masih terletak pada efektivitas transmisi kebijakan ke sektor riil, di mana pembiayaan produktif perlu terus diperkuat agar mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar .
Diskusi juga menggarisbawahi penguatan ekonomi syariah ke depan tidak hanya bergantung pada peningkatan literasi dan inklusi, juga kemampuan membangun ekosistem yang terintegrasi dan mendorong aktivitas ekonomi produktif.
Ini menjadi kunci agar ekonomi syariah dapat berkontribusi nyata dalam transformasi ekonomi nasional.
Kegiatan ditutup dengan sesi halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan.
Melalui forum ini, ISEI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong ekonomi dan keuangan syariah sebagai pilar penting dalam pembangunan nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi yang semakin erat antara regulator, industri, akademisi, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat penguatan ekosistem ekonomi syariah, sekaligus mendorong Indonesia menuju posisi strategis sebagai pusat ekonomi syariah global.

4 hours ago
8

















































