Ketika Abu Bakar Melarang Tawaf dalam Keadaan Telanjang

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad SAW, menceritakan kisah berikut. Pada bulan Dzulqadah dan Dzulhijah tahun kesembilan Hijriah, Nabi Muhammad SAW mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai pemimpin rombongan haji (amirul haj) bagi segenap kaum Muslimin. Kemudian, turunlah permulaan surah at-Taubah.

Isinya mengenai pembatalan perjanjian damai antara umat Islam dan kaum Musyrikin. Pembatalan itu pun terjadi dengan sebelumnya, orang-orang musyrik terlebih dahulu merusak atau berkhianat pada poin-poin perjanjian yang sama.

بَرَاۤءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُّمْ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَۗ

"(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad) kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan mereka (untuk tidak saling berperang)."

Sesudah turunnya wahyu tersebut, Rasulullah SAW mengirimkan Ali bin Abi Thalib untuk mengumumkannya kepada orang-orang di Makkah. Ini sesuai pula dengan adat bangsa Arab dalam hal perjanjian yang berkenaan dengan nyawa dan harta.

Maka bertemulah Abu Bakar dan Ali di kawasan bernama al-Araj atau Dhajnan. Abu Bakar bertanya kepada Ali, "Engkau sebagai pemimpin (amir) atau pengikut?"

Ali menjawab, "Aku sebagai pengikut."

Maka keduanya meneruskan perjalanan ke Makkah. Ketika hari kurban (10 Dzulhijah) tiba, Ali berdiri di dekat jamarat (lokasi lempar jumrah) lalu mengumumkan kepada khalayak tentang apa-apa yang diperintahkan Nabi SAW.

Ali mengumumkan bahwa Rasulullah SAW dan kaum Muslimin membatalkan setiap perjanjian kepada yang bersangkutan dan memberi penangguhan kepada kaum musyrikin selama empat bulan .Demikian pula, penangguhan kepada siapa saja yang tidak memiliki perjanjian. Adapun bagi mereka yang tidak melecehkan kaum Muslimin dan tidak pula bersekutu dengan siapapun guna memerangi kaum Muslimin, maka perjanjian diteruskan hingga batas masa akhirnya.

Abu Bakar lantas mengutus beberapa orang untuk memberitakan kepada khalayak di Makkah: tidak diperkenankan lagi bagi seorang musyrik pun untuk berhaji mulai pada tahun ini. Mulai hari itu pula, tidak boleh lagi ada yang melakukan tawaf dalam keadaan telanjang.

Pengumuman tersebut merupakan momentum penting bagi berakhirnya kesyirikan di Baitullah dan, pada akhirnya, seluruh Jazirah Arab.

Untuk diketahui, pada masa Jahiliyah banyak orang Arab memuja berhala. Tempat suci mereka tetap seperti leluhurnya, Nabi Ibrahim AS, yakni Ka'bah.

Namun, Baitullah itu tak lagi suci karena menjadi pusat pemujaan berhala-berhala. Dinding Ka'bah dipenuhi aneka gambar makhluk bernyawa dan ukiran-ukiran yang mengilustrasikan malaikat.

Pada masa Jahiliyah itu pula, musim ziarah ke Baitullah tetap berlangsung tiap tahun. Orang-orang dari berbagai wilayah dalam dan luar kawasan Arabia datang mengunjungi Ka'bah.

Suku Quraisy selaku tuan rumah bertugas melayani para peziarah. Namun, alih-alih mengikuti syariat Ibrahim AS, mereka malah melangsungkan ritual-ritual pagan di sekitar Ka'bah.

Berbeda dengan ibadah haji hari ini, orang 'Arab Pagan' pada saat itu tidak berjalan di antara perbukitan Safa dan Marwah dan tidak pula berkumpul di Padang Arafah. Beberapa kelompok di antara mereka hanya menyepi selama seluruh proses ziarah berlangsung.

Bahkan, banyak peziarah yang mengelilingi Ka'bah sambil telanjang atau hanya mengenakan kain yang menutup kemaluan mereka (serta dua payudara bagi perempuan). Sementara, elite Quraisy selaku tuan rumah hanya membiarkan.

Read Entire Article
Politics | | | |