
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di langit perang modern, ada satu makhluk yang tidak bersenjata tapi ditakuti. Pesawat ini tidak menembak, tidak menjatuhkan bom, bahkan tidak mengejar siapa pun.
Matanya seperti elang di udara, tapi tak pernah menyerang. Ia hanya melihat. Dan justru karena itulah semua orang gemetar.
Namanya panjang seperti gelar profesor luar negeri: E-3 Sentry AWACS. AWACS sendiri nama singkatan dari Airborne Warning and Control System.
Pesawat ini mirip Boeing 707, dengan “piring terbang” (radar dome) di atas tubuhnya. Salah satu darinya baru saja dirudal oleh Iran hingga pecah berkeping.
Dari foto-foto yang beredar, berasal dari pangkalan Prince Sultan Air Base di Saudi Arabia, tampak “makhluk langit” ini terbaring seperti paus raksasa kandas di gurun.
Bagian depan badannya koyak seperti kaleng sarden dibuka pakai obeng. Rangka logamnya mencuat keluar, seperti tulang yang tak sempat disembunyikan. Sayapnya masih setengah gagah, tapi badannya sudah seperti kehilangan jiwa.
Ekor bertuliskan “U.S. Air Force” berdiri sunyi seperti papan nama di kuburan teknologi. Anda sudah tahu apa arti U.S. Air Force, bahkan cukup dari gambar benderanya.
Di sekelilingnya, serpihan logam berserakan, dan beberapa petugas berpakaian pelindung putih berjalan pelan, seolah sedang mengautopsi makhluk yang dulu dianggap “tidak tersentuh” karena memang suka terbang hingga 10.000 meter di langit.
Mari kita sederhanakan. AWACS bukan sekadar pesawat. Ini adalah “menara komando terbang” pasukan Amerika Serikat yang paling dibanggakan dan diandalkan sejak dekade tahun 70-an.
Bayangkan sebuah ruang kendali perang lengkap — radar, komputer, operator, analis, komunikasi global — dipasang di dalam tubuh pesawat Boeing, lalu diterbangkan setinggi 9–10 kilometer.
Di atas sana, ia melihat ratusan kilometer ke segala arah. Pesawat tempur, rudal, drone, bahkan pergerakan udara kecil pun masuk dalam radar AWACS.
Dalam bahasa lebih jujur, ia adalah “mata, telinga, dan otak” yang mengatur perang dari langit. Jika jet tempur itu ibarat prajurit, maka AWACS adalah jenderalnya. Ia tidak berperang, tapi semua perang bergantung padanya.
Yang disebut “pusat komando” di dalam AWACS bukan metafora. Di dalamnya ada belasan hingga puluhan operator yang memantau layar radar, mengidentifikasi ancaman, mengarahkan jet tempur, mengatur formasi, bahkan mengoordinasikan serangan lintas udara-laut-darat.
Pilot pesawat tempur sering kali tidak melihat musuhnya. Mereka “melihat” melalui AWACS. Jadi ketika orang berkata “tanpa AWACS, pesawat tempur buta”, itu bukan dramatisasi.
Itu kenyataan operasional, persis seperti sopir taksi online tanpa GPS. Tapi bedanya, pesawat raksasa ini bukan nyasar ke gang sempit, melainkan ke medan perang.
Seperti semua teknologi, AWACS punya sejarah. Ini bukan teknologi baru kemarin sore. Ia lahir dari paranoia Perang Dingin, ketika dunia dibagi dua seperti roti bakar yang diperebutkan dua anak kecil bersenjata nuklir.
Versi E-3 Sentry yang disayat-sayat Iran itu dikembangkan oleh Boeing pada 1970-an dan mulai digunakan sejak akhir dekade itu.
Sejak saat itu, AWACS hadir dalam hampir semua perang besar Amerika. Ia tampil gagah di Perang Teluk 1991, hadir dalam invasi Irak 2003, operasi NATO di Balkan, hingga perang di Afghanistan.
Ia menjadi semacam “dewa kecil di langit” yang tidak disembah, tapi ditaati. Semua pergerakan udara tunduk pada bisikannya.
Bukan hanya Amerika yang punya. NATO, Arab Saudi, Inggris, Prancis — semua punya versi AWACS. Versi E-3 Sentry yang hancur berkeping-keping itu milik AS sendiri.
Bahkan kini ada generasi baru seperti AWACS E-7 Wedgetail, yang lebih modern, lebih digital, lebih canggih, seperti upgrade dari telepon rumah ke smartphone, tapi untuk urusan mengatur perang.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
4
















































