Nakes akan Diberi Imunisasi Campak untuk Lindungi Diri

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya melindungi tenaga kesehatan dan tenaga medis, yang termasuk kelompok rentan terhadap campak. Salah satu caranya dengan memberikan vaksinasi bagi kelompok tersebut.

"Apakah ada rencana vaksinasi? Ya betul, kita akan mengarah ke sana. Dan secara cepat kami juga siapkan analisis daripada uji vaksinnya, uji klinisnya, terkait dengan program vaksin yang digunakan saat ini," kata Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni, Senin (30/3/2026).

Dia menyebutkan, menurut data Kemenkes, 8 persen kasus campak terjadi pada orang dewasa, meski memang mayoritas terjadi pada balita. "Dan untuk dari 10 yang meninggal pada tahun 2026, ada 1 kasus pada usia dewasa 25 tahun. Dan kemudian umumnya pada balita. Tetapi ada kasus anak-anak tapi usia 14 tahun. Itu kan tidak termasuk dewasa," katanya.

Andi menjelaskan sebenarnya, jika sudah menerima imunisasi campak dan rubella dua kali, yakni pada umur 18 bulan dan pada usia kelas 1 SD, maka perlindungan sudah optimal. Akan tetapi, katanya, pada orang dewasa, ada kondisi-kondisi lain yang dapat memengaruhi, misalnya imunitas yang lemah, penderita HIV/AIDS, atau menderita penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan hipertensi.

"Dan tentunya bahwa intensitas terpapar oleh campak. Khususnya tenaga kesehatan itu juga menjadi faktor risiko," katanya.

Dia menyebutkan selain surveilans dan vaksinasi, pihaknya juga baru-baru ini mengeluarkan Surat Edaran sebagai upaya menjaga tenaga kesehatan dan tenaga medis dari campak.

Dia juga menjelaskan tentang tindak lanjut pihaknya berupa penyelidikan epidemiologi, merespons meninggalnya seorang tenaga kesehatan berusia 25 tahun di Cianjur, Jawa Barat akibat campak. "Beliau memeriksa ada kasus campak di tanggal 8, kemudian 19 dan tanggal 21. Beliau adalah dokter IGD Rumah Sakit Umum Daerah Pagelaran. Kita bisa lihat di sini sempat berdinas dua hari berturut-turut pada tanggal 15-16," katanya.

Pada tanggal 18 Maret, almarhum mengeluhkan demam, flu, dan batuk, kemudian meminta izin untuk tidak bekerja, dan diizinkan. Namun demikian, kata Andi, almarhum tetap datang untuk berdinas selama tiga hari berturut-turut, menangani suspek campak sebelum akhirnya mengajukan cuti karena kondisi semakin melemah.

"Pada tanggal 25 Pukul 23 WIB kasus masuk di IGD rumah sakit Cimacan dibawa oleh keluarganya dengan keluhan penurunan kesadaran," katanya.

Dia menyebutkan, terjadi perburukan dan dilakukan intubasi. Akhirnya nakes tersebut meninggal dunia dengan diagnosis akhir dengan campak dan gangguan jantung serta otak.

Secara umum, katanya, kasus campak di Cianjur lebih rendah dibandingkan 10 daerah tertinggi, dengan total suspek 25 kasus dan 9 kasus terkonfirmasi, serta tidak ada kasus baru di minggu ke 12.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |