099_Rianita Muttofiah
Guru Menulis | 2026-06-30 18:37:11
Rianita Muttofi’ahMahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Masih ingat bagaimana sore hari dulu selalu dipenuhi suara anak-anak yang berlarian di lapangan atau halaman rumah? Ada yang bermain gobak sodor, bentengan, petak umpet, congklak, engklek, hingga lompat tali. Tidak ada hadiah yang diperebutkan, tidak ada koneksi internet yang dibutuhkan, tetapi hampir setiap permainan mampu menghadirkan tawa dan kebersamaan. Bahkan, ketika matahari mulai tenggelam, anak-anak sering kali masih enggan pulang karena permainan belum benar-benar selesai.
Kini, pemandangan seperti itu semakin jarang ditemukan. Sepulang sekolah, lebih banyak anak memilih menghabiskan waktu di dalam rumah. Sebagian sibuk menonton video, sebagian lagi bermain gim melalui telepon pintar. Bukan berarti teknologi adalah sesuatu yang salah. Namun, di balik kemajuan tersebut, ada satu hal yang perlahan ikut menghilang, yaitu permainan tradisional sebagai bagian dari budaya lokal.
Banyak orang menganggap permainan tradisional hanyalah hiburan masa kecil. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), permainan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Permainan tidak hanya mengajarkan cara bermain, tetapi juga membawa nilai, aturan, kebiasaan, bahkan cara masyarakat membangun hubungan sosial.
Setiap daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional yang berbeda. Masyarakat Jawa mengenal gobak sodor dan engklek, masyarakat Sumatra memiliki permainan galah panjang, sementara berbagai daerah lain memiliki permainan khas yang lahir dari lingkungan dan budaya setempat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.
Sayangnya, proses pewarisan budaya itu mulai terputus. Anak-anak masa kini lebih mengenal karakter dalam gim daring dibandingkan permainan yang pernah dimainkan orang tua atau kakek-nenek mereka. Tidak sedikit anak yang mengetahui nama berbagai tokoh animasi, tetapi belum pernah mencoba bermain congklak atau bentengan. Akibatnya, permainan tradisional perlahan hanya menjadi cerita, bukan lagi pengalaman yang benar-benar dirasakan.
Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Perkembangan teknologi memang menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya. Lingkungan tempat tinggal juga ikut berubah. Lahan kosong yang dahulu menjadi tempat bermain kini banyak beralih fungsi menjadi bangunan, jalan, atau kawasan permukiman. Di sisi lain, kesibukan orang tua dan padatnya aktivitas sekolah membuat waktu bermain anak semakin terbatas. Ketika ruang bermain semakin sedikit, permainan tradisional pun semakin jarang dilakukan.
Padahal, permainan tradisional menyimpan banyak nilai yang sejalan dengan tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar. Anak belajar bekerja sama ketika bermain gobak sodor, belajar menghargai aturan saat bermain bentengan, belajar jujur ketika menjadi penjaga, dan belajar menerima kekalahan tanpa harus bermusuhan. Semua nilai tersebut tumbuh secara alami melalui interaksi langsung dengan teman sebaya.
Selain mengajarkan nilai sosial, permainan tradisional juga menjadi cara sederhana bagi anak untuk mengenal lingkungan tempat tinggalnya. Banyak permainan dilakukan di halaman rumah, lapangan, atau ruang terbuka yang membuat anak terbiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari kegiatan tersebut, mereka belajar mengenal tetangga, memahami aturan yang berlaku di lingkungan, serta merasakan pentingnya hidup berdampingan dengan orang lain.
Pengalaman seperti ini merupakan bagian dari pembelajaran IPS yang tidak selalu dapat diperoleh melalui buku. Justru melalui aktivitas bermain, anak belajar memahami bahwa kehidupan bermasyarakat dibangun dari kebiasaan saling menghargai, bekerja sama, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Inilah yang membedakan permainan tradisional dengan permainan digital. Dalam permainan tradisional, anak tidak hanya berhadapan dengan layar, tetapi juga berhadapan dengan orang lain. Mereka belajar berkomunikasi, menyelesaikan perbedaan pendapat, menunggu giliran, dan memahami bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam permainan. Pengalaman seperti ini sulit digantikan oleh teknologi, seberapa canggih pun perkembangannya.
Dari sudut pandang IPS, permainan tradisional juga menjadi sarana mengenalkan kehidupan bermasyarakat kepada anak. Mereka belajar bahwa hidup bersama membutuhkan kerja sama, kepedulian, dan rasa saling menghargai. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting dalam membentuk warga masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Ironisnya, banyak anak yang justru mengenal budaya dari negara lain lebih dulu dibandingkan budaya di lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Hal ini tentu bukan kesalahan anak semata. Orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sekolah misalnya, dapat memasukkan permainan tradisional ke dalam kegiatan pembelajaran atau proyek budaya. Lingkungan masyarakat juga dapat mengadakan kegiatan bermain bersama saat peringatan hari kemerdekaan atau acara kampung. Cara-cara sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai terlupakan.
Melestarikan permainan tradisional bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Anak tetap perlu mengenal perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, permainan tradisional dapat menjadi penyeimbang yang membantu anak tetap mengenal budaya, lingkungan, dan masyarakatnya sendiri.
Pada akhirnya, yang sedang kita jaga bukan hanya sebuah permainan. Kita sedang menjaga cerita, nilai, dan identitas budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ketika permainan tradisional terus dimainkan, sesungguhnya kita sedang memastikan bahwa budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Sebab, sebuah budaya tidak akan bertahan hanya karena dicatat dalam buku, melainkan karena terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin suatu hari nanti anak-anak tidak lagi mengingat skor permainan daring yang pernah mereka mainkan. Namun, mereka akan selalu mengingat teman-teman yang pernah tertawa bersama saat bermain di lapangan. Dari situlah mereka belajar arti kebersamaan, sportivitas, dan kehidupan bermasyarakat. Dan mungkin, itulah warisan budaya paling sederhana yang seharusnya tidak kita biarkan menghilang.
Sumber Bacaan :
Sukirno, & Ridwan, D. (2017). Optimalisasi Hasil Belajar IPS melalui Permainan Tradisional. JIPSINDO.
Kuswanto. (2022). Eksistensi Permainan Tradisional sebagai Aktivitas Fisik Anak Usia Dini pada Generasi Alfa. KINDERGARTEN: Journal of Islamic Early Childhood Education.
Asih, S. W., & El-Yunusi, M. Y. M. (2024). Permainan Tradisional dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini. Ceria: Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

5 hours ago
4
















































